Queensha.id – Jepara,

 

Kesenian tradisional kembali menemukan panggungnya. Lakon “Kawin Gagal” dalam balutan seni Emprak menjadi sorotan utama dalam peringatan Hari Teater Dunia 2026 yang digelar oleh Dewan Kesenian Daerah Jepara selama tiga hari, 3–5 April 2026.

Bertempat di Pantai Bandengan, tepatnya di gedung serbaguna kawasan wisata tersebut, kegiatan ini menjelma menjadi ruang temu lintas generasi di mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas seni, hingga masyarakat umum.

 

Workshop Jadi Pintu Masuk Generasi Muda

Rangkaian acara dibuka dengan workshop teater yang mendapat antusiasme tinggi. Para peserta tidak hanya belajar teknik dasar seni peran, tetapi juga diajak mengeksplorasi kreativitas serta memahami pentingnya ekspresi budaya dalam kehidupan sosial.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap dunia teater, yang selama ini kerap terpinggirkan oleh arus hiburan modern.

 

Emprak “Kawin Gagal”: Humor yang Menyentil Realitas

Memasuki hari kedua, panggung benar-benar hidup. Pementasan Emprak dengan lakon “Kawin Gagal” sukses memikat perhatian penonton. Dengan gaya khasnya, kesenian tradisional ini menghadirkan perpaduan humor segar, kritik sosial, serta nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Tawa penonton pecah, namun di balik itu terselip sindiran halus tentang realitas sosial di mulai dari relasi keluarga, tekanan budaya, hingga dinamika kehidupan sehari-hari.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Muhammad Adjib Gufron, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan seni tradisional di tengah modernisasi.

“Emprak bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Ini identitas budaya yang harus terus dijaga,” ujarnya, dikutip dari berbagai sumber.

 

Kolaborasi Lintas Daerah Perkuat Ekosistem Seni

Ketua panitia, Robi Shani, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam menyukseskan acara ini. Kehadiran perwakilan komunitas teater dari Kudus, Pati, hingga Semarang menjadi bukti bahwa semangat kolaborasi lintas daerah semakin menguat.

Tak hanya itu, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Jepara, termasuk Lia, turut hadir memberikan dukungan, menandakan bahwa perhatian terhadap seni tradisional masih menjadi bagian penting dalam agenda kebudayaan daerah.

 

Penutup Kreatif dan Peluncuran Buku “KOL”

Pada hari terakhir, panggung diisi oleh berbagai komunitas teater lokal yang menampilkan karya-karya kreatif dan inovatif. Puncaknya, dilakukan peluncuran buku “KOL” merupakan kumpulan naskah teater karya seniman Jepara.

Peluncuran ini menjadi langkah konkret dalam mendokumentasikan sekaligus mengembangkan literasi teater di daerah, agar tidak hilang ditelan zaman.

 

Menjaga Tradisi, Menyapa Masa Depan

Melalui peringatan Hari Teater Dunia 2026 ini, Dewan Kesenian Jepara berharap kesenian tradisional seperti Emprak tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dicintai generasi muda.

Di tengah gempuran budaya populer, panggung sederhana di Pantai Bandengan membuktikan satu hal: tradisi tidak pernah usang dan ia hanya menunggu untuk kembali dihidupkan.

 

***

Ratu Andayani/TC.
(5 April 2026)