Queensha.id – Jepara,
Kenaikan harga bahan baku kembali menghantam pelaku usaha kecil. Kali ini, pedagang es teh di Jepara harus menghadapi lonjakan harga plastik yang menjadi komponen utama dalam setiap penjualan.
Gelas cup, tutup, hingga sedotan yang sebelumnya dianggap biaya kecil, kini justru menjadi beban besar. Para pedagang pun mulai angkat suara.
“Ini bukan naik harga, tapi pindah harga,” keluh Dewi, salah satu pedagang es teh, Selasa (7/4).
Ia mengaku terpaksa menaikkan harga jual dari Rp3.000 demi menutup biaya produksi yang terus merangkak naik. “Minuman lain seperti kopi juga ikut menyesuaikan,” tambahnya.
Tekanan Berlapis dari Bahan Baku
Keluhan tidak hanya datang dari satu pedagang. Anik, penjual jajanan, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga bahan lain.
“Bukan cuma plastik, bahan lain juga naik. Mosok dampak perang Timur Tengah,” ujarnya setengah bercanda, namun menyiratkan keresahan nyata.
Sejumlah pedagang menduga lonjakan harga ini berkaitan dengan kondisi global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok bahan baku.
Dilema Pedagang Kecil
Di tengah situasi ini, pelaku usaha mikro berada dalam posisi sulit. Menaikkan harga berisiko membuat pelanggan beralih, sementara mempertahankan harga lama berarti menanggung kerugian.
Margin keuntungan yang sebelumnya tipis kini semakin tergerus. Bahkan, tidak sedikit pedagang yang mulai mengurangi ukuran porsi atau kualitas kemasan demi bertahan.
Harapan untuk Stabilitas Harga
Para pedagang berharap adanya langkah konkret untuk menstabilkan harga bahan baku, terutama plastik yang menjadi kebutuhan harian.
Tanpa intervensi atau solusi, tekanan ini dikhawatirkan akan memukul lebih banyak usaha kecil, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa gejolak global dapat merembet hingga ke lapak-lapak kecil di daerah hingga membuat segelas es teh tak lagi sesederhana dulu.
***
(07 April 2026)

Tinggalkan Balasan