Queensha.id – Opini Publik,
Keputusan meninggalkan desa sering kali dianggap sebagai langkah mundur bagi sebagian orang. Namun tidak bagi Dimas (nama samaran), yang justru memilih pindah ke perumahan demi mencari ketenangan hidup setelah sempat merasakan fase “makmur” di kampung halaman.
Pada 2023 lalu, Dimas dan istrinya memutuskan meninggalkan hiruk-pikuk kota besar dan kembali ke desa. Tujuannya sederhana yaitu menjalani gaya hidup slow living yang merupakan hidup tenang, jauh dari tekanan, dan lebih dekat dengan alam.
Di tahun pertama, kehidupan mereka berjalan sesuai harapan. Dengan penghasilan berbasis digital yakni Dimas sebagai freelancer digital ads specialist dan istrinya menjalankan online shop dan keduanya mampu menikmati standar hidup kota dengan biaya desa yang jauh lebih murah.
Tabungan meningkat, kebutuhan tercukupi, dan kehidupan terasa stabil.
Namun, memasuki tahun kedua, realita mulai berbicara lain.
Benturan Gaya Hidup dan Budaya
Masalah utama muncul dari perbedaan pola hidup. Aktivitas kerja mereka yang fleksibel yaitu sering bekerja hingga larut malam hingga membuat mereka bangun lebih siang dibanding warga desa pada umumnya.
Hal ini memicu penilaian negatif. Dimas dan istrinya mulai dicap pemalas karena tidak terlihat beraktivitas sejak pagi hari.
“Padahal kerja kami memang fleksibel, tapi warga tidak selalu memahami,” ungkap Dimas.
Tak hanya itu, aktivitas bisnis mereka yang melibatkan banyak pengiriman paket juga menimbulkan kecurigaan. Hampir setiap hari kurir datang ke rumah mereka, sesuatu yang tidak lazim di lingkungan desa.
Dicap Aneh hingga Disangka Terlibat Judi Online
Puncak ketidaknyamanan terjadi ketika seorang tetangga meminta diajari bermain judi slot. Permintaan itu muncul karena kesalahpahaman terhadap aktivitas Dimas yang sering menatap grafik di laptop.
“Dikira saya main judi online yang ‘gacor’, padahal itu grafik iklan,” kata Dimas.
Situasi ini membuat Dimas menyadari bahwa tidak semua lingkungan desa mampu menerima pola kerja dan gaya hidup modern, terutama yang berbasis digital.
Privasi yang Sulit Didapat
Selain stigma sosial, aspek privasi juga menjadi tantangan. Budaya srawung atau interaksi sosial yang tinggi di desa membuat ruang pribadi menjadi terbatas.
Bagi Dimas dan istrinya yang terbiasa dengan ritme kerja mandiri dan privat, kondisi ini justru menimbulkan tekanan baru.
Memilih Pergi Demi Keseimbangan
Akhirnya, Dimas dan istrinya memutuskan pindah ke perumahan. Bukan karena tidak mencintai desa, tetapi karena menyadari bahwa ketenangan tidak selalu ditentukan oleh lokasi, melainkan kecocokan lingkungan.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa konsep slow living tidak bisa disamaratakan. Desa memang menawarkan ketenangan secara fisik, tetapi belum tentu secara sosial.
Di tengah perubahan zaman, perbedaan pola hidup antara generasi dan profesi menjadi tantangan tersendiri. Dan pada akhirnya, setiap orang berhak memilih tempat tinggal yang paling sesuai dengan kebutuhan jiwa dan pikirannya.
***
(8 April 2026)

Tinggalkan Balasan