Queensha.id – Jepara,
Malam ini, suasana Alun-alun 1 Kabupaten Jepara dipastikan tak hanya dipenuhi gemerlap perayaan Dirgahayu ke-477, tetapi juga lautan jamaah yang ingin menyaksikan langsung sosok yang tengah naik daun di dunia dakwah: Gus Iqdam.
Nama Gus Iqdam bukan sekadar penceramah biasa. Ia adalah fenomena. Sosok muda yang mampu menarik ribuan, bahkan puluhan ribu jamaah dari berbagai kalangan dari santri, pekerja, hingga anak-anak muda yang sebelumnya jauh dari dunia pengajian.
Lantas, siapa sebenarnya Gus Iqdam?
Gus Iqdam memiliki nama lengkap Muhammad Iqdam Kholid. Ia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 27 September 1994. Ia merupakan anak dari KH. Kholid dan Hj. Ny. Lam’atul Walidah. KH. Kholid dikenal sebagai seorang kiai yang pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikmah II di Karanggayam, Blitar.
Latar belakang keluarga pesantren ini menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya. Namun, jalan hidup Gus Iqdam tidak selalu lurus. Di masa mudanya, ia sempat dikenal jauh dari kehidupan santri, bahkan memiliki ketertarikan pada dunia balap motor.
Dari fase itulah, ia menemukan titik balik. Perjalanan spiritualnya membawanya kembali ke dunia pesantren dan mendalami ilmu agama dengan lebih serius, hingga akhirnya memilih jalan dakwah sebagai panggilan hidup.
Tonggak penting dakwahnya dimulai saat ia mendirikan Majelis Ta’lim Sabilu Taubah. Awalnya hanya diikuti segelintir orang, namun kini berkembang menjadi gerakan besar yang mampu menghadirkan ribuan jamaah dalam setiap kajian.
Gaya dakwah Gus Iqdam menjadi kunci utama popularitasnya. Ia dikenal santai, tidak menggurui, dan dekat dengan bahasa anak muda. Ceramahnya kerap diselipi humor segar, namun tetap mengandung pesan mendalam yang mudah diterima berbagai kalangan.
Istilah khas seperti “dekengan pusat” pun menjadi viral di masyarakat, memperkuat identitas dakwahnya yang sederhana namun membekas.
Tak hanya di panggung pengajian, pengaruh Gus Iqdam juga meluas melalui media sosial. Potongan ceramahnya banyak beredar dan ditonton jutaan orang, menjadikannya salah satu pendakwah muda dengan daya jangkau luas di era digital.
Kehadirannya di Alun-alun Jepara malam ini bukan sekadar pengisi acara. Ia menjadi simbol bahwa dakwah yang membumi, jujur, dan relevan masih sangat dibutuhkan masyarakat dan terutama generasi muda yang sedang mencari arah.
Di tengah kemeriahan perayaan, sosok Gus Iqdam hadir membawa pesan sederhana namun kuat: bahwa perubahan selalu mungkin, dan setiap orang punya kesempatan untuk kembali menjadi lebih baik.
***
(Redaksi Queensha Jepara | Selasa, 14 April 2026)

Tinggalkan Balasan