Queensha.id – Jepara,
Nama AKP M Faizal Wildan Umar Rela bukan sosok asing di tengah dinamika penegakan hukum di Kabupaten Jepara. Sebagai Kasat Reskrim Polres Jepara, ia berada di garda terdepan dalam menangani berbagai kasus di mulai dari kriminalitas umum hingga perkara yang menyita perhatian publik.
Dalam sejumlah penanganan kasus, AKP Wildan dikenal tegas dalam proses hukum, namun tetap mengedepankan sisi humanis. Hal itu terlihat dari berbagai langkah yang diambilnya selama bertugas di Jepara.
Salah satu yang menyita perhatian publik adalah penanganan kasus pembakaran yang melibatkan konflik rumah tangga. Dalam kasus tersebut, AKP Wildan memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur, bahkan memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait perkembangan kasus.
Tak hanya itu, ia juga terlibat dalam penanganan kasus sosial yang sensitif, seperti konflik warga terkait penolakan aktivitas tambang di wilayah Sumberrejo. Dalam situasi yang penuh tekanan, AKP Wildan menegaskan bahwa pemanggilan warga dilakukan dalam kapasitas sebagai saksi, bukan bentuk kriminalisasi.
Pendekatan komunikatif ini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus meredam potensi konflik di masyarakat.
Namun, di balik ketegasannya, sisi humanis AKP Wildan juga mencuri perhatian. Salah satunya saat memberikan izin dan fasilitasi pernikahan seorang tahanan di Masjid Polres Jepara. Keputusan itu menjadi simbol bahwa penegakan hukum tidak harus menghilangkan nilai kemanusiaan.
“Itu bentuk pelayanan kami setelah adanya pengajuan dari keluarga,” ungkapnya kala itu.
Langkah tersebut mendapat respons positif dari masyarakat, karena menunjukkan bahwa aparat tidak hanya berperan sebagai penindak hukum, tetapi juga sebagai pelayan publik yang memahami sisi kemanusiaan.
Sepak terjang AKP Faizal Wildan Umar di Jepara memperlihatkan dua wajah penting dalam penegakan hukum yaitu ketegasan dan empati.
Di satu sisi, ia memastikan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Di sisi lain, ia tetap membuka ruang kemanusiaan dalam setiap kebijakan.
Dalam konteks masyarakat modern yang semakin kompleks, pendekatan semacam ini menjadi kebutuhan. Penegakan hukum tidak cukup hanya dengan kekuatan aturan, tetapi juga dengan sentuhan nilai.
AKP Wildan seolah menunjukkan bahwa menjadi aparat bukan sekadar soal kewenangan, melainkan juga tentang tanggung jawab moral terhadap masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan, sosoknya menjadi representasi bahwa hukum bisa ditegakkan tanpa kehilangan hati nurani.
***
(Redaksi Queensha Jepara | Selasa, 14 April 2026)

Tinggalkan Balasan