Queensha.id – Wonogiri,
Jika menyebut bakso dan mi ayam, nama Wonogiri hampir selalu ikut terlintas. Seperti halnya sate dengan Madura atau gudeg dengan Yogyakarta, citra kuliner ini melekat kuat dan bukan karena tren sesaat, melainkan hasil perjalanan sejarah panjang masyarakatnya.
Fenomena tersebut berakar dari tradisi merantau warga Wonogiri yang dikenal dengan istilah “kaum boro”. Sejak era 1960-an, masyarakat setempat telah mengadu nasib ke berbagai kota di Indonesia dengan membawa satu keahlian utama: berdagang kuliner.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Wonogiri, Haryanto, menyebut tradisi ini sebagai fondasi utama lahirnya jaringan kuliner bakso dan mi ayam yang kini tersebar luas.
“Kaum boro ini berasal dari kata ‘ngalemboro’ atau mengembara. Dari sanalah jaringan usaha kuliner terbentuk dan berkembang,” ujarnya, Jum’at (17/4) dilansir dari sumber.
Dari Pikulan ke Jaringan Nasional
Para perantau Wonogiri memulai usaha dari bawah yang berjualan bakso keliling dengan pikulan atau gerobak dorong. Namun seiring waktu, usaha tersebut berkembang menjadi bisnis keluarga yang diwariskan lintas generasi.
Menariknya, terdapat pembagian peran yang khas dalam tradisi ini. Kaum laki-laki umumnya menjalankan usaha bakso dan mi ayam, sementara perempuan menekuni usaha jamu gendong. Kolaborasi ini memperkuat jaringan ekonomi keluarga sekaligus memperluas jangkauan usaha.
Hasilnya, label “Bakso Wonogiri” dan “Mi Ayam Wonogiri” kini mudah ditemukan di hampir setiap kota di Indonesia—menjadi semacam “brand tanpa pabrik” yang hidup dari solidaritas perantau.
Jejak Akulturasi Budaya
Popularitas bakso dan mi ayam tak lepas dari sejarah kuliner itu sendiri. Hidangan ini merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa dengan tradisi lokal Jawa.
Wonogiri kemudian menjadi salah satu pusat perkembangan kuliner tersebut, sekaligus memperkuat identitasnya sebagai sentra bakso dan mi ayam di Pulau Jawa.
Di balik kesuksesan itu, terdapat karakter masyarakat Wonogiri yang dikenal ulet, pekerja keras, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Kearifan lokal inilah yang menjadi fondasi kuat bertahannya usaha mereka di tengah persaingan.
Dari Gerobak ke Branding Daerah
Kini, bakso dan mi ayam tak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga alat branding daerah. Pemerintah Kabupaten Wonogiri melihat potensi besar ini sebagai pintu masuk promosi wisata.
Melalui ajang seperti Festival Mi Ayam dan Bakso Wonogiri 2025, identitas kuliner tersebut diperkuat dan diperkenalkan ke tingkat nasional hingga global.
Festival yang digelar di Alun-Alun Giri Krida Bakti itu menghadirkan puluhan pelaku usaha, sekaligus menjadi simbol bahwa bakso bukan sekadar makanan rakyat, tetapi juga warisan budaya.
Bupati Wonogiri, Setyo Soekarno, bahkan mencanangkan visi “Bakso Wonogiri Mendunia” sebagai langkah strategis membawa kuliner lokal ke panggung internasional.
Lebih dari Sekadar Makanan
Kisah bakso dan mi ayam Wonogiri bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang perjuangan, migrasi, dan identitas. Dari gerobak sederhana di pinggir jalan hingga menjadi ikon kuliner nasional, semuanya berakar dari tradisi kaum boro yang tak pernah padam.
Di balik semangkuk bakso hangat, tersimpan cerita panjang tentang kerja keras, solidaritas, dan mimpi yang dibawa merantau lalu kembali dalam bentuk kebanggaan daerah.
***
(17 April 2026)

Tinggalkan Balasan