Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan dari akun Facebook “Jenewa Inspirasi” memantik perdebatan publik setelah menyoroti fenomena klasik: keluarga dengan ekonomi terbatas cenderung memiliki banyak anak, sementara kalangan mapan justru lebih berhitung dalam merencanakan keturunan.
Dalam narasi tersebut disebutkan bahwa pola ini tidak semata soal ekonomi, melainkan juga dipengaruhi cara kerja otak, insting bertahan hidup, hingga pola pikir yang terbentuk dari tekanan hidup sehari-hari. Kemiskinan disebut membuat seseorang lebih fokus pada kebutuhan jangka pendek, sementara perencanaan jangka panjang, termasuk jumlah anak, kerap terabaikan.
Menanggapi hal itu, pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak disederhanakan.
“Ini bukan sekadar soal orang miskin ‘ingin punya banyak anak’. Ada faktor tekanan hidup, akses pendidikan, serta pemahaman yang belum utuh tentang perencanaan keluarga,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, pola pikir seperti “banyak anak banyak rezeki” masih hidup di sebagian masyarakat, namun sering kali dipahami secara parsial tanpa mempertimbangkan tanggung jawab jangka panjang terhadap kualitas hidup anak.
“Harapan bahwa anak bisa menjadi penyelamat ekonomi keluarga memang ada, tapi itu bukan strategi yang realistis jika tidak dibarengi dengan kesiapan pendidikan dan pengasuhan,” tambahnya.
Purnomo juga menyoroti pentingnya edukasi yang lebih menyentuh akar persoalan. Ia menyebut program keluarga berencana (KB) sebenarnya sudah cukup tersedia, namun belum sepenuhnya efektif menjangkau kelompok masyarakat tertentu.
“Masalahnya bukan hanya akses, tapi juga pemahaman dan keberanian mengambil keputusan. Ada faktor budaya, keyakinan, bahkan tekanan sosial yang membuat orang ragu membatasi jumlah anak,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa anak bukanlah instrumen ekonomi, melainkan individu yang memiliki hak untuk hidup layak, mendapatkan pendidikan, dan tumbuh dalam lingkungan yang sehat.
“Yang harus diubah adalah cara pandang. Lebih baik sedikit anak tapi berkualitas, daripada banyak tapi tidak terpenuhi hak-haknya. Ini soal tanggung jawab, bukan sekadar pilihan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Purnomo mendorong peran aktif negara dan berbagai pihak dalam meningkatkan literasi keluarga, terutama di wilayah dengan tingkat ekonomi rendah. Namun, ia juga menekankan bahwa perubahan paling mendasar harus dimulai dari kesadaran individu dan keluarga itu sendiri.
Fenomena ini kembali membuka diskusi luas tentang hubungan antara kemiskinan, budaya, dan keputusan berkeluarga merupakan sebuah isu lama yang masih relevan di tengah perubahan zaman.
***
(18 April 2026)

Tinggalkan Balasan