Queensha.id – Jepara,

 

Tradisi Sedekah Bumi kembali digelar di Kelurahan Bapangan, Kecamatan Jepara Kota, Kabupaten Jepara, pada Minggu (19/4/2026). Perhelatan budaya ini tak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi juga momentum penting untuk merawat jejak sejarah panjang Jepara yang berakar dari para adipati masa lampau.

Rangkaian acara akan dimulai pukul 16.00 WIB dengan ziarah massal di Makam Gedong Tjitrosomo, dilanjutkan doa bersama pada pukul 18.00 WIB. Suasana malam akan semakin semarak dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Hadi Purwanto dan sinden cantik Yeyen Pati yang membawakan lakon “Semar Boyong” di Les Air Bapangan mulai pukul 20.00 WIB.

Tak berhenti di situ, agenda berlanjut pada Senin malam (20/4/2026) dengan pengajian umum menghadirkan penceramah KH. Mahrus Ali, sebagai penutup rangkaian spiritual dan budaya yang sarat makna.

Lurah Bapangan, Miftahul Amin, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni, melainkan juga sarana memperkuat nilai kebersamaan dan kesadaran sejarah masyarakat.

“Sedekah Bumi ini bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan kepada leluhur serta pengingat bahwa kita memiliki sejarah besar yang harus dijaga bersama,” ujarnya, Minggu (19/4).

Kelurahan Bapangan sendiri menyimpan jejak penting dalam sejarah Jepara. Salah satu tokoh sentralnya adalah Adipati Citrosomo I, yang memerintah pada tahun 1708–1742. Kepemimpinan ini kemudian berlanjut hingga Citrosomo VII pada akhir abad ke-19.

Sosok Adipati Citrosomo I, yang dikenal dengan nama Ki Wuragil Djiwosuto, merupakan pengawal setia Sultan Agung Mataram. Ia dikenal berhasil meredam konflik di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, bahkan turut menghadapi pasukan Belanda bersama para adipati dari berbagai daerah seperti Probolinggo hingga Tegal.

Atas jasanya, Ki Wuragil Djiwosuto diangkat menjadi Adipati Jepara dengan gelar Citrosomo, dan menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sendang. Sementara itu, Adipati Citrosomo II yang memerintah setelahnya dimakamkan di Desa Bapangan, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pusat sejarah penting di Jepara.

Di kompleks pemakaman tersebut juga berdiri Masjid Annur, yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Jepara karena dibangun pada masa Citrosomo III. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi, termasuk pada tahun 2022, dengan upaya mengembalikan bentuk arsitektur aslinya.

Melalui Sedekah Bumi, masyarakat Bapangan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat ingatan kolektif tentang perjuangan, spiritualitas, dan identitas lokal yang telah diwariskan lintas generasi.

 

***
(19 April 2026)