Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Pertanyaan klasik tentang makna penciptaan manusia kembali mengemuka yaitu jika Tuhan Maha Mengetahui segalanya, mengapa manusia tetap diuji? Diskursus ini bukan hanya menjadi bahan renungan awam, tetapi juga telah lama dibahas oleh para ulama.

Dalam khazanah Islam, kisah dialog antara malaikat dan Allah saat penciptaan manusia menjadi titik awal pemahaman. Dalam Al-Qur’an, malaikat mempertanyakan penciptaan makhluk yang berpotensi membuat kerusakan di bumi. Namun, jawaban yang diberikan menegaskan adanya dimensi pengetahuan Ilahi yang melampaui nalar manusia.

Ulama besar Indonesia seperti M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ujian kehidupan bukanlah sarana bagi Tuhan untuk mengetahui siapa yang baik atau buruk, melainkan bentuk keadilan Ilahi.

 

Menurutnya, manusia diberi kesempatan untuk membuktikan pilihan dan kualitas dirinya sendiri.
“Allah tidak membutuhkan ujian untuk mengetahui, tetapi manusia membutuhkan ujian agar tidak memiliki alasan di hadapan-Nya,” demikian garis besar pandangan yang kerap disampaikan.

Senada dengan itu, KH. Hasyim Muzadi menekankan bahwa keistimewaan manusia terletak pada kebebasan memilih. Berbeda dengan malaikat yang selalu taat tanpa opsi, manusia justru diuji karena memiliki kehendak bebas.

Dalam perspektif ini, ujian kehidupan dipahami sebagai konsekuensi dari amanah besar yang dipikul manusia. Kebebasan memilih antara baik dan buruk menjadikan hidup bukan sekadar perjalanan menuju akhir, tetapi proses penentuan nilai diri.

Lebih jauh, para ulama juga menggarisbawahi bahwa penilaian Tuhan tidak semata pada kuantitas amal, melainkan kualitas niat di baliknya. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa setiap manusia diberi ruang untuk berubah selama hayat masih dikandung badan.

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, misalnya, kerap mengingatkan bahwa rahmat Tuhan selalu terbuka luas. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama manusia masih memiliki kesadaran untuk kembali.

Pemahaman ini memberikan perspektif bahwa hidup bukanlah takdir yang sepenuhnya dipaksakan, melainkan peluang yang diberikan. Manusia tidak diciptakan untuk sekadar menjalani, tetapi untuk memilih dan dari pilihan itulah nilai kemanusiaan dibentuk.

Dengan demikian, ujian kehidupan bukanlah tanda ketidaktahuan Tuhan, melainkan bentuk kasih sayang dan keadilan-Nya. Selama napas masih berhembus, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki arah hidup dan kembali pada jalan yang benar.

 

***
(19 April 2026)