Queensha.id – Jepara,
Di tengah geliat industri furnitur yang menembus pasar global, Desa Senenan, kecamatan Tahunan, kabupaten Jepara kembali menunjukkan jati dirinya.
Bukan hanya sebagai pusat ukir kelas dunia, tetapi juga sebagai ruang hidup tradisi yang terus dijaga lintas generasi.
Mulai 19 hingga 22 April 2026, masyarakat Senenan menggelar Sedekah Bumi merupakan sebuah perayaan tahunan yang tak sekadar ritual, melainkan cerminan kuatnya nilai kebersamaan, spiritualitas, dan identitas budaya.
Di desa ini, ukiran bukan hanya pekerjaan. Ia adalah warisan. Dan Sedekah Bumi adalah cara masyarakat mengingat bahwa di balik setiap ekspor furnitur, ada akar tradisi yang tidak boleh tercerabut.
Lebih dari Sekadar Seremoni
Petinggi Desa Senenan, Mulyono, menegaskan bahwa Sedekah Bumi bukanlah agenda seremonial belaka.
“Ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus pengikat kebersamaan warga. Guyub rukun dan gotong royong adalah kekuatan utama desa kami,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, tradisi ini menjadi ruang temu antara nilai lama dan realitas baru. Di satu sisi, masyarakat menjaga adat leluhur. Di sisi lain, mereka menghadapi tuntutan ekonomi global sebagai pelaku industri furnitur ekspor.
Rangkaian Acara: Tradisi Bertemu Hiburan Rakyat
Selama empat hari, Desa Senenan disulap menjadi panggung budaya yang hidup. Rangkaian kegiatan disusun dengan memadukan unsur hiburan, seni tradisional, dan religi:
– 19 April: Karnaval Kirab Budaya di malam hari yaitu arak-arakan, kostum tradisional dan kreativitas warga dengan melestarikan budaya, adat istiadat dan rasa syukur atas anugerah dari Allah SWT yang melimpah di lingkungan desa Senenan.
– 20 April: Pagelaran tayub siang dan malam, menghadirkan hiburan rakyat yang kental nuansa lokal.
– 21 April: Pentas wayang kulit oleh Ki Didik Purbo Carito yang menjadi magnet penonton lintas generasi.
22 April: Pengajian akbar menghadirkan Gus Reza Ahmad Zahid sebagai penutup penuh makna.
Perpaduan ini menunjukkan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi masa lalu, tetapi juga ruang ekspresi budaya yang terus berkembang.
Senenan: Jantung Ukiran Jepara
Tak bisa dipungkiri, Desa Senenan adalah salah satu pusat industri furnitur terbesar di Jepara. Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari seni ukir dan relief hingga karya tangan yang telah mengharumkan nama daerah hingga mancanegara.
Di balik rumah-rumah sederhana, berdiri bengkel kerja yang menghasilkan produk bernilai tinggi. Dari kursi ukir klasik hingga panel relief artistik, semuanya lahir dari tangan-tangan terampil warga.
Namun di tengah arus modernisasi dan tuntutan pasar global, ada kekhawatiran: hilangnya identitas lokal. Di sinilah Sedekah Bumi memainkan peran penting.
“Tradisi ini mengingatkan kita agar tidak lupa akar budaya. Kita boleh maju secara ekonomi, tapi jangan kehilangan jati diri,” tegas Mulyono.
Antara Budaya dan Ekonomi
Sedekah Bumi di Senenan bukan hanya soal doa dan hiburan. Ia juga menjadi momentum memperkuat sinergi antara pelaku usaha, seniman, dan masyarakat.
Para perajin, pengusaha furnitur, hingga generasi muda berkumpul dalam satu ruang sosial yang sama. Mereka tidak hanya merayakan, tetapi juga memperkuat jejaring, solidaritas, dan semangat kolektif.
Di tengah tantangan ekonomi global, kebersamaan menjadi modal utama.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan terselenggaranya Sedekah Bumi 2026, masyarakat berharap tradisi ini terus hidup dan berkembang. Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai fondasi sosial yang mendukung kemajuan ekonomi desa.
Senenan telah membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan dan asal ada kesadaran untuk menjaga keseimbangan.
Di desa ini, ukiran tidak hanya menghiasi kayu. Ia juga mengukir identitas, kebersamaan, dan harapan masa depan.
***
(20 April 2026)

Tinggalkan Balasan