Queensha.id – Edukasi Sosial,
Gelar sarjana yang dahulu dianggap sebagai “tiket emas” menuju pekerjaan layak, kini kian kehilangan daya magisnya. Di tengah ketatnya persaingan dan terbatasnya lapangan kerja, ribuan lulusan perguruan tinggi justru terjebak dalam ketidakpastian dan bahkan tak sedikit yang bekerja jauh dari bidang studinya.
Fenomena ini bukan sekadar cerita individu, melainkan potret perubahan struktural di dunia kerja Indonesia.
Ijazah Tak Lagi Menjamin
Dalam dua dekade terakhir, terjadi pergeseran besar. Jika dulu gelar sarjana identik dengan status sosial dan pekerjaan mapan, kini ia lebih sering menjadi sekadar syarat administratif.
Konsep ini sejalan dengan pemikiran sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, yang menyebut ijazah sebagai modal budaya (cultural capital). Namun, ketika jumlah sarjana meningkat drastis, nilai “tukar” ijazah pun menurun yang merupakan fenomena yang dikenal sebagai qualification inflation.
Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi tidak lagi otomatis terserap ke sektor formal.
Data Bicara: Kelas Menengah Menyusut
Kondisi ini diperparah oleh melemahnya struktur ekonomi. Data menunjukkan kelas menengah Indonesia menyusut signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Di saat yang sama:
– Mayoritas tenaga kerja berada di sektor informal.
– Lebih dari satu juta sarjana masih menganggur.
– Banyak lulusan bekerja dengan upah yang tidak sebanding.
Fenomena ini menandakan adanya ketidakseimbangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Terjebak Realita: Kerja Tak Sesuai Jurusan
Kini, bukan hal aneh melihat sarjana teknik menjadi admin media sosial, lulusan hukum berjualan online, atau sarjana pertanian beralih ke bisnis thrift. Istilah akademiknya adalah occupational mismatch, namun realitanya lebih sederhana: terpaksa demi bertahan hidup.
Bagi banyak lulusan, pilihan tersebut bukan soal idealisme, melainkan strategi bertahan di tengah kerasnya realitas ekonomi.
Peran “Orang Dalam” dan Jaringan
Selain gelar akademik, faktor lain yang kian menentukan adalah modal sosial yakni jaringan, relasi, dan koneksi.
Sarjana dengan akses ke komunitas profesional atau jaringan alumni yang kuat cenderung lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Sebaliknya, mereka yang minim koneksi harus berjuang lebih keras, meski memiliki kompetensi yang sama.
Pandangan Pengamat Sosial
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menilai fenomena ini sebagai dampak dari disrupsi besar di dunia kerja.
Menurutnya, sistem pendidikan di Indonesia masih terlalu fokus mencetak pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja.
“Dunia berubah cepat, tetapi sistem pendidikan kita berjalan lambat. Akibatnya, banyak lulusan tidak siap menghadapi realitas baru,” ujarnya dalam berbagai forum.
Sementara itu, sosiolog Musni Umar menyoroti lemahnya link and match antara pendidikan dan industri. Ia menilai kurikulum belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan pasar kerja yang dinamis.
“Banyak lulusan tidak terserap bukan karena tidak pintar, tetapi karena sistemnya belum terhubung dengan kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.
Bukan Sekadar Masalah Individu
Fenomena ini menegaskan bahwa persoalan pengangguran sarjana bukan semata-mata kegagalan individu. Ada persoalan struktural yang lebih besar yang di mulai dari sistem pendidikan, kebijakan ekonomi, hingga distribusi kesempatan kerja.
Jika tidak segera diatasi, kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan menurunkan kepercayaan generasi muda terhadap pendidikan tinggi.
Kini, pertanyaannya bukan lagi “perlu kuliah atau tidak”, melainkan: apakah sistem yang ada mampu menjamin masa depan para lulusannya?
***
(20 April 2026)

Tinggalkan Balasan