Queensha.id – Jepara,
Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam langkah-langkah sederhana namun penuh makna. Salah satunya tercermin dari perjalanan Faiza, M.Pd., seorang guru perempuan yang membuktikan bahwa keberanian memilih jalan hidup adalah bagian dari emansipasi itu sendiri.
Lahir di Sidoarjo pada 9 Agustus 1979, Faiza memulai perjalanan hidupnya jauh dari dunia pendidikan. Setelah menikah, ia sempat membantu suaminya mengelola bengkel las dan bubut. Namun rutinitas itu perlahan menghadirkan kejenuhan.
“Temannya itu-itu saja, saya merasa bosan,” kenangnya.
Titik balik datang ketika seorang teman memberinya informasi lowongan mengajar Bahasa Inggris di MTsN Bawu. Kesempatan itu sejalan dengan latar belakang pendidikannya. Tanpa ragu, Faiza mendaftar dan mengikuti seleksi. Hasilnya, ia diterima dan mulai mengajar pada Juli 2003.
Sejak saat itu, langkahnya di dunia pendidikan terus berlanjut. Pada 2006, ia mengikuti seleksi guru bantu dari Dinas Dikpora dan berhasil lolos. Ia kemudian ditempatkan di SMP Negeri 1 Tahunan.
Perjalanan kariernya semakin kokoh ketika pada 2009, ia resmi diangkat menjadi CPNS di sekolah yang sama. Dedikasinya sebagai pendidik terus terjaga hingga akhirnya pada 2024, ia mendapat kesempatan mutasi ke sekolah yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya, yakni di SMP Negeri 2 Jepara, tempat ia mengabdi hingga sekarang.
Bagi Faiza, menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. Dalam momentum Hari Kartini 2026, ia menyampaikan pesan mendalam kepada generasi muda, khususnya para siswa.
“Teruslah menyalakan semangat emansipasi dalam diri. Jadilah generasi yang berani berpikir, berani bersuara, dan berani melangkah maju,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ia menekankan pentingnya pendidikan sebagai jembatan menuju masa depan. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi luar biasa yang harus diasah dan diarahkan untuk membawa perubahan positif.
“Jangan pernah meragukan cita-citamu, setinggi apa pun itu. Gunakan ilmu untuk memberi manfaat bagi sesama,” tegasnya.
Tak hanya untuk siswa, Faiza juga menyampaikan harapan kepada sesama guru. Ia mengajak para pendidik untuk terus menghidupkan semangat Kartini dalam proses belajar mengajar.
“Guru tidak hanya mengajar, tapi juga menginspirasi, memberdayakan, dan membuka jalan bagi setiap anak untuk berkembang tanpa diskriminasi,” katanya.
Menurutnya, tantangan dunia pendidikan saat ini membutuhkan kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan. Namun di balik itu, ada tanggung jawab besar untuk membentuk generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Perjalanan Faiza menjadi bukti bahwa semangat Kartini tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan monumental. Kadang, ia tumbuh dari keberanian seorang perempuan untuk keluar dari zona nyaman, memilih jalannya sendiri, dan terus memberi arti bagi orang lain.
Dari bengkel sederhana hingga ruang kelas, dari rasa jenuh hingga dedikasi tanpa henti dan Faiza telah menunjukkan bahwa menjadi perempuan berdaya adalah tentang keberanian melangkah dan konsistensi dalam memberi dampak.
***
(21/4/2026)

Tinggalkan Balasan