Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat kembali dihadapkan pada pilihan klasik yakni ikut kurban sapi secara patungan di masjid atau berkurban kambing secara pribadi. Di balik pilihan itu, tersimpan pertanyaan penting yaitu mana yang lebih utama, dan bagaimana hukumnya menurut Islam?

Fenomena ini bukan sekadar tradisi, tetapi menyangkut sah atau tidaknya ibadah yang dijalankan.

 

Sapi 7 Orang, Kambing 1 Orang: Ini Aturan Resminya

Dalam syariat Islam, hewan kurban memiliki ketentuan yang jelas.

– Satu ekor kambing – hanya untuk 1 orang.

– Satu ekor sapi – boleh untuk maksimal 7 orang.

Ketentuan ini bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa satu sapi dapat digunakan untuk tujuh orang yang berkurban.

Artinya, praktik patungan sapi yang umum dilakukan di masjid sah secara hukum Islam, selama setiap peserta benar-benar berniat kurban, bukan sekadar ikut-ikutan.

 

Lebih Utama Mana? Ini Pandangan Ulama

Di sinilah mulai muncul perbedaan perspektif. Ulama Indonesia seperti Ahmad Bahauddin Nursalim berpendapat bahwa, satu orang berkurban satu kambing lebih utama dibanding ikut patungan sapi.

Alasannya:

– Ibadah dilakukan secara utuh (tidak dibagi)

– Lebih mendekati praktik Nabi.

– Manfaatnya bisa lebih luas jika banyak orang berkurban sendiri-sendiri.

 

Namun penting digarisbawahi:

Patungan sapi tetap sah dan dibolehkan, terutama bagi yang belum mampu secara finansial.

 

Kurban di Masjid vs di Rumah: Apa Bedanya?

Secara hukum, tidak ada perbedaan sah atau tidaknya antara kurban di masjid maupun di rumah.

Namun, perbedaannya lebih pada aspek sosial:

 

1. Kurban di Masjid

Kurban di masjid merupakan ibadah yang lebih terorganisir, untuk pembagian daging lebih merata. Nilai sosial dan kebersamaan lebih kuat
Cocok untuk patungan sapi.

 

2. Kurban di Rumah

Kurban di rumah atau lebih personal dan privat merupakan ibadah kurban yang bisa langsung dibagikan ke tetangga sekitar. Lebih fleksibel dalam pelaksanaan.

Namun, dalam praktik di Indonesia, masjid menjadi pusat kurban karena mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

 

Jangan Salah Kaprah: Terpaksa vs Mampu

Banyak orang memilih patungan sapi karena alasan ekonomi. Ini sah dan bahkan menjadi solusi agar lebih banyak orang bisa berkurban.

Namun, jika seseorang sebenarnya mampu berkurban sendiri, sebagian ulama menganjurkan untuk tidak bergabung patungan, melainkan berkurban secara mandiri.

 

Pesan Penting untuk Masyarakat

Kurban bukan soal besar kecilnya hewan, tetapi keikhlasan dan ketakwaan, yaitu:

– Mampu adalah utamakan kurban sendiri.

– Belum mampu adalah patungan sapi merupakan solusi sah.

– Yang terpenting adalah niat ibadah, bukan gengsi.

Di tengah semangat Idul Adha, masyarakat diingatkan untuk tidak hanya fokus pada teknis, tetapi juga memahami makna pengorbanan yang sebenarnya.

Karena pada akhirnya, bukan dagingnya yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari orang yang berkurban.

 

***

(24 April 2026)