Queensha.id – Edukasi Islam,

 

Ceramah-ceramah yang disampaikan KH Anwar Zahid dikenal lugas, sederhana, namun mengena. Salah satu pesan yang kerap dikutip masyarakat adalah soal pentingnya menjaga “9 lubang tubuh” dalam kehidupan sehari-hari. Pesan ini bukan sekadar perumpamaan, melainkan mengandung makna mendalam tentang pengendalian diri secara menyeluruh, tidak terbatas pada momen ibadah tertentu.

Dalam berbagai ceramahnya, KH Anwar Zahid menjelaskan bahwa manusia memiliki sembilan “pintu” pada tubuh yaitu mata, telinga, hidung, mulut, alat kelamin, dan anus yang jika tidak dijaga dapat menjadi jalan masuk berbagai bentuk dosa. Ia menegaskan, pengendalian diri bukan hanya saat beribadah, tetapi harus menjadi kebiasaan yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep ini mengajak masyarakat untuk lebih sadar dalam menjalani aktivitas harian. Mata, misalnya, tidak sekadar melihat, tetapi harus dijaga dari hal-hal yang tidak pantas. Telinga pun bukan hanya mendengar, melainkan harus dijauhkan dari gosip, fitnah, dan ucapan yang merusak hati. Sementara mulut, dituntut untuk menahan ucapan bohong, kasar, dan menyakitkan.

KH Anwar Zahid secara khusus menyoroti dua bagian tubuh yang dianggap paling rawan menjerumuskan manusia, yakni alat kelamin dan anus. Menurutnya, keduanya berkaitan erat dengan hawa nafsu dan kebersihan diri, sehingga perlu dijaga secara disiplin dalam setiap kondisi, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu.

Pesan ini sejalan dengan pandangan banyak ulama di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia menegaskan bahwa menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa merupakan bagian penting dari ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pengendalian diri tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menjadi fondasi moral dalam berinteraksi dengan sesama.

Di lingkungan pesantren tradisional, konsep menjaga anggota tubuh dikenal sebagai bagian dari proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Para ulama menilai, pendekatan KH Anwar Zahid efektif karena disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan realitas masyarakat.

Di tengah derasnya arus informasi dan godaan visual di era modern, pesan ini menjadi semakin relevan. Media sosial, konten digital, hingga gaya hidup konsumtif kerap menjadi sumber “celah” baru yang dapat menjerumuskan seseorang jika tidak mampu mengendalikan diri.

Bagi masyarakat, filosofi “9 lubang tubuh” menjadi pengingat bahwa menjaga diri bukan hanya kewajiban saat momen ibadah, tetapi tanggung jawab sepanjang hidup. Pengendalian terhadap setiap anggota tubuh diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih disiplin, bersih, dan berakhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, pesan tersebut menegaskan bahwa kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia lakukan saat beribadah, tetapi juga oleh bagaimana ia menjaga dirinya di hari-hari biasa.

 

***