Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena mudah tersinggung dalam kehidupan sehari-hari ternyata bukan sekadar persoalan emosi sesaat. Di balik sikap reaktif tersebut, tersimpan persoalan yang lebih dalam yaitu rendahnya harga diri yang kerap tidak disadari.

Dalam dinamika sosial, banyak individu merasa tidak dihargai, tidak didengar, atau bahkan tersisih dari lingkungan. Perasaan ini, jika dibiarkan, perlahan berkembang menjadi rasa rendah diri yang berdampak serius pada kesehatan mental.

Menurut praktisi pengembangan diri dari Probest Surabaya, Meriana Chandra, sikap mudah tersinggung merupakan indikator penting dari lemahnya kontrol emosi yang berakar dari persepsi diri yang negatif.

“Secara tidak langsung, seseorang yang mudah tersinggung itu menunjukkan bahwa harga dirinya rendah. Karena ia terlalu sensitif dan merasa segala hal ditujukan untuk menjatuhkannya,” ujarnya.

 

Dari Rasa Tak Dihargai ke Menarik Diri

Individu dengan harga diri rendah cenderung menganggap dirinya tidak penting dalam lingkungan sosial.

 

Akibatnya, mereka lebih memilih menarik diri dibanding menghadapi interaksi yang dianggap mengancam.
Kondisi ini bukan hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga berpotensi memicu gangguan psikologis yang lebih serius jika tidak ditangani.

Faktor pemicunya pun beragam, mulai dari pengalaman masa lalu, tekanan lingkungan, hingga latar belakang keluarga dan ekonomi. Namun, menurut Meriana, akar masalah seringkali terletak pada cara seseorang memaknai dirinya sendiri.

 

Jangan Jadikan Masa Lalu sebagai Beban

Meriana menegaskan bahwa latar belakang keluarga bukanlah penentu mutlak harga diri seseorang.

“Sebenarnya, harga diri kita tidak rendah hanya karena kita lahir dari orang tua yang kurang beruntung,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa banyak orang terjebak dalam pola pikir yang menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk tidak berkembang. Padahal, luka batin yang terus dipelihara justru akan memperparah kondisi mental.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit dan mengubah jalan hidup kita sendiri. Latar belakang adalah tempat kita berasal, bukan tempat kita berhenti,” tambahnya.

 

Saatnya Mengenali Diri Sendiri

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mudah tersinggung bukan sekadar sifat, melainkan sinyal yang perlu dipahami dan ditangani.

Masyarakat diharapkan lebih peka terhadap kondisi psikologis diri sendiri maupun orang di sekitar. Dengan kesadaran dan upaya memperbaiki pola pikir, harga diri yang sehat bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dibangun.

 

***
(26 April 2026)