Queensha.id – Jepara,
Nuansa religius berpadu dengan hangatnya kebersamaan menyelimuti gelaran Tradisi Manganan Sedekah Bumi Desa Mambak, kecamatan Pakisaji, Jepara pada Tahun 2026 yang berlangsung pada Kamis (30/4/2026). Bertempat di Makam Islam Desa Mambak, ribuan warga memadati lokasi sejak pagi hari, menjadikan acara ini sebagai salah satu perhelatan budaya paling semarak di wilayah tersebut.
Tradisi tahunan yang telah mengakar kuat ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat desa, tokoh agama, hingga unsur pemerintahan seperti Camat Pakis Aji.
Kehadiran mereka mempertegas bahwa manganan bukan sekadar ritual, melainkan simbol kuat persatuan warga.
Petinggi Desa Mambak, Hadi Prayitno, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas desa.
“Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga. Selain sebagai wujud syukur kepada Tuhan, ini juga menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat Desa Mambak,” ujarnya, Kamis (30/4).
Acara semakin khidmat dengan tausiyah yang disampaikan oleh KH Ahmad Nasihin. Dalam ceramahnya, ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga nilai keimanan, memperkuat ukhuwah, serta melestarikan budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Dari pantauan di lapangan, antusiasme warga terlihat begitu tinggi. Kaum ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak duduk bersama di bawah tenda sederhana. Mereka membawa aneka hidangan khas seperti nasi berkat, buah-buahan, serta hasil bumi sebagai simbol rasa syukur.
Sejumlah tokoh masyarakat seperti Mbah Rifai, para ketua RW dan RT, turut hadir dan duduk bersila mengikuti rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan. Sementara itu, ribuan jamaah lainnya memenuhi area luar hingga halaman makam, menciptakan lautan manusia yang larut dalam doa bersama.
Tradisi manganan sedekah bumi sendiri merupakan warisan budaya yang sarat makna. Tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Desa Mambak berharap nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, serta kearifan lokal tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang, meski zaman terus berubah.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan denyut kehidupan masyarakat desa yang terus menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi.
***
(30 April 2026)

Tinggalkan Balasan