Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Sebuah curhatan seorang pria di media sosial mendadak viral dan memicu perdebatan publik. Ia mengaku menyesal telah menghabiskan Rp150 juta demi menggelar pesta pernikahan mewah, yang kini justru menjadi awal tekanan ekonomi dalam rumah tangganya.

Dengan nada getir, pria tersebut menyebut keputusan itu diambil bukan semata keinginan pribadi, melainkan demi memenuhi ekspektasi keluarga besar dan lingkungan sekitar.

“Dulu dibilang ini momen sekali seumur hidup, harus dibuat meriah. Tapi sekarang? Hidup jadi berat tiap hari,” tulisnya.

Alih-alih menikmati masa awal pernikahan dengan tenang, ia kini harus menghadapi beban cicilan dan kebutuhan rumah tangga yang terus menumpuk. Curhatan itu pun langsung menuai beragam respons dari yang merasa senasib hingga yang tetap menganggap pesta besar sebagai simbol kebahagiaan.

Namun di balik polemik tersebut, isu yang diangkat menyentuh persoalan yang lebih dalam: tekanan sosial dan ego kolektif dalam budaya pernikahan.
Pria itu menilai, banyak komponen biaya hajatan sebenarnya bukan untuk kebutuhan pengantin, melainkan demi menjaga gengsi keluarga.

 

Mulai dari jumlah tamu yang membludak, dekorasi mewah, hingga hiburan yang berlebihan dan semuanya menjadi ajang pembuktian status sosial.

“Yang makan ribuan orang, yang bayar kita berdua. Setelah itu? Mereka pulang, kita yang nanggung cicilan,” ungkapnya.

Fenomena ini dinilai bukan kasus tunggal. Banyak pasangan muda di Indonesia yang terjebak dalam standar sosial tinggi tanpa perhitungan finansial matang. Akibatnya, kehidupan pasca pernikahan justru dipenuhi tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

 

Pandangan Ulama: Kesederhanaan Lebih Utama

Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia turut memberikan pandangan terkait fenomena ini. Quraish Shihab menekankan bahwa dalam ajaran Islam, pernikahan adalah ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan dengan kemudahan, bukan memberatkan.

Menurutnya, walimah atau pesta pernikahan memang dianjurkan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan.

“Islam tidak pernah mengajarkan berlebihan dalam hal apapun, termasuk dalam pernikahan. Prinsipnya adalah kesederhanaan dan keberkahan,” ujarnya dalam berbagai kesempatan ceramah.

Senada, Abdul Somad juga kerap mengingatkan bahwa tujuan utama pernikahan adalah membangun rumah tangga yang sakinah, bukan mempertontonkan kemewahan.

Ia bahkan menyebut, memaksakan diri demi pesta besar bisa berujung pada masalah baru dalam rumah tangga.

“Kalau setelah menikah malah stres karena utang, di mana letak sakinahnya?” tegasnya.

Sementara itu, Yahya Cholil Staquf dalam beberapa kesempatan menyoroti pentingnya mengembalikan esensi pernikahan sebagai ikatan sosial dan spiritual, bukan ajang gengsi.

 

Antara Tradisi dan Realita

Di tengah meningkatnya biaya hidup, fenomena ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat. Tradisi hajatan besar yang telah mengakar sering kali sulit dihindari, namun tanpa disadari dapat menjadi beban jangka panjang.

Para pengamat sosial menilai, perlu ada perubahan cara pandang kolektif agar pernikahan tidak lagi diukur dari kemegahan acara, melainkan kesiapan pasangan dalam menjalani kehidupan bersama.

Curhatan pria tersebut menjadi pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh gemerlap satu hari pesta, melainkan oleh ketahanan menghadapi hari-hari setelahnya.

Pertanyaan pun mengemuka: apakah pesta besar benar-benar kebutuhan, atau sekadar tekanan sosial yang diwariskan turun-temurun?

Di tengah realita ekonomi yang kian menantang, jawaban atas pertanyaan ini bisa menjadi penentu masa depan banyak pasangan muda.

 

***
(Queensha Jepara | 1 Mei 2026)