Queensha.id – Edukasi Sosial,
Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun kerap mengundang renungan panjang: mengapa pernikahan generasi terdahulu bisa bertahan puluhan tahun, sementara kini banyak rumah tangga goyah di usia yang masih muda?
Di tengah perubahan zaman, gaya hidup, hingga pengaruh media sosial, pernikahan modern menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Namun, apakah benar cinta zaman dulu lebih kuat? Atau justru ada nilai yang perlahan memudar?
Komitmen yang Bergeser
Dalam pandangan Quraish Shihab, pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan emosional, tetapi juga perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha).
Ia menegaskan bahwa inti dari rumah tangga adalah komitmen jangka panjang, bukan sekadar perasaan sesaat.
“Cinta itu bisa naik turun, tapi komitmenlah yang menjaga pernikahan tetap berdiri,” ujarnya dalam berbagai kajian.
Jika dahulu bertahan menjadi nilai utama, kini bertahan sering diposisikan sebagai pilihan. Perubahan ini, menurut para ulama, menjadi salah satu faktor rapuhnya hubungan di era modern.
Ekspektasi Tinggi, Realita Berbeda
Fenomena meningkatnya ekspektasi dalam pernikahan juga disorot oleh Abdul Somad. Ia menyebut banyak pasangan muda menginginkan hubungan yang “sempurna”, padahal kesempurnaan itu tidak pernah ada.
“Jangan menikah dengan bayangan sinetron. Rumah tangga itu ujian, bukan hanya kebahagiaan,” tegasnya.
Ketika pasangan dituntut menjadi segalanya yakni teman, kekasih, sekaligus penyembuh luka batin hingga beban emosional menjadi tidak realistis. Akibatnya, kekecewaan mudah muncul saat harapan tak terpenuhi.
Media Sosial dan Hilangnya Rasa Syukur
Peran media sosial dalam memengaruhi persepsi pernikahan juga menjadi perhatian. Yahya Cholil Staquf menilai bahwa budaya membandingkan diri dengan orang lain dapat mengikis rasa syukur dalam rumah tangga.
“Yang ditampilkan di ruang publik sering kali hanya bagian terbaik. Jika itu dijadikan standar, maka banyak orang akan merasa kurang dalam hidupnya sendiri,” ungkapnya.
Perbandingan yang terus-menerus ini, secara perlahan, memicu ketidakpuasan dan konflik dalam hubungan.
Ketahanan Mental dan Cara Menyikapi Masalah
Ulama juga menyoroti perubahan cara generasi modern dalam menghadapi masalah. Jika dulu pasangan lebih fokus memperbaiki, kini tidak sedikit yang memilih mengakhiri hubungan saat konflik muncul.
Menurut Aa Gym, kunci utama rumah tangga bukan terletak pada minimnya masalah, melainkan pada kemampuan mengelola konflik.
“Rumah tangga itu bukan tanpa masalah, tapi bagaimana menyikapi masalah dengan sabar dan bijak,” tuturnya.
Ia menambahkan, kesabaran dan keikhlasan menjadi fondasi penting yang sering kali tergerus oleh pola pikir instan di era sekarang.
Antara Kebebasan dan Kesiapan
Meski demikian, para ulama sepakat bahwa pernikahan di era modern tidak sepenuhnya lebih buruk. Ada sisi positif berupa kebebasan memilih pasangan, kesetaraan, serta kesadaran akan hak dan kewajiban.
Namun, kebebasan tersebut harus diimbangi dengan kesiapan mental dan spiritual. Tanpa itu, hubungan justru menjadi rapuh.
Refleksi Zaman
Fenomena pernikahan yang kian rentan sejatinya bukan semata soal cinta yang melemah, melainkan perubahan cara pandang terhadap komitmen, kesabaran, dan makna kebersamaan.
Pernikahan bukan tentang seberapa mudah menemukan kebahagiaan, tetapi seberapa kuat mempertahankannya saat ujian datang.
Di tengah derasnya arus modernitas, pesan para ulama terasa relevan: kembali pada nilai dasar yakni kesederhanaan, komitmen, dan rasa syukur yang bisa menjadi kunci agar pernikahan tidak sekadar bertahan, tetapi juga penuh keberkahan.
***
(Queensha Jepara | 1 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan