Queensha.id – Edukasi Sosial,
Pertanyaan klasik yang kerap mengguncang batin banyak orang kembali mencuat: mengapa orang yang dikenal baik, taat beribadah, justru sering dipanggil lebih cepat? Sementara mereka yang jauh dari nilai-nilai kebaikan terlihat hidup lebih lama?
Fenomena ini kerap menimbulkan kegelisahan, bahkan tak jarang memicu krisis keyakinan. Namun para ulama terkemuka di Indonesia menilai, cara pandang manusia terhadap “keadilan umur” sering kali terlalu sempit.
Menurut Quraish Shihab, umur panjang atau pendek bukanlah ukuran utama kemuliaan seseorang di sisi Tuhan. Ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah “keberkahan umur”, bukan sekadar lamanya hidup.
“Banyak orang hidup panjang tapi tidak memberi manfaat, sementara ada yang singkat hidupnya namun penuh makna dan meninggalkan jejak kebaikan,” ungkapnya dalam berbagai kajian.
Bukan Soal Lama, Tapi Isi Umur
Dalam pandangan Islam, hidup di dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan ujian. Orang baik yang wafat lebih cepat justru bisa dipahami sebagai bentuk kasih sayang Tuhan.
Hal senada juga pernah disampaikan oleh Abdul Somad. Ia menjelaskan bahwa orang-orang saleh yang wafat lebih dahulu bisa jadi sedang “diselamatkan” dari fitnah dunia yang lebih besar.
“Kalau dia tetap hidup, mungkin imannya diuji lebih berat. Maka Allah ambil dalam keadaan terbaiknya,” ujarnya dalam sebuah ceramah, dikutip pada Minggu (3/5).
Rahasia yang Tak Selalu Terlihat
Di sisi lain, umur panjang bagi orang yang jauh dari ibadah bukan berarti mereka “lebih beruntung”. Dalam perspektif ulama, hal itu bisa menjadi bentuk penangguhan, bukan kemuliaan.
Yusuf Mansur pernah menyinggung bahwa panjang umur bisa menjadi kesempatan untuk berubah atau justru memperpanjang kesalahan.
“Ingat, hidup lama itu bukan hadiah kalau tidak digunakan untuk taat,” tegasnya.
Takdir dan Sudut Pandang Manusia
Manusia cenderung menilai dengan ukuran duniawi: usia, kekayaan, dan kenyamanan. Padahal dalam ajaran Islam, ukuran sejati adalah akhir kehidupan (husnul khatimah).
Bisa jadi seseorang yang terlihat “cepat pergi” justru telah mencapai puncak terbaik dalam hidupnya. Sementara yang hidup lama masih diberi waktu untuk memperbaiki diri.
Kesimpulan: Misteri yang Mengandung Hikmah
Pertanyaan “mengapa orang baik umurnya pendek” sejatinya bukan tentang ketidakadilan, melainkan tentang keterbatasan manusia dalam memahami takdir.
Ulama sepakat, rahasia sesungguhnya terletak pada:
– Kualitas hidup, bukan durasi.
– Keberkahan amal, bukan panjang usia.
– Akhir yang baik, bukan awal yang terlihat indah.
Pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang paling siap ketika waktunya tiba.
***
(Ditulis untuk Queensha Jepara | 3 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan