Queensha.id – Jepara,

 

Rumah Kreatif Batik Stilir di Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara menjadi bukti bahwa usaha rumahan mampu menembus pasar global. Tak hanya memproduksi kain batik, tempat ini juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi bagi ibu rumah tangga di lingkungan sekitar.

Dari teras rumah sederhana milik April Puji Astuti (46), aktivitas membatik berlangsung hangat setiap hari. Sejumlah ibu-ibu bersama remaja tampak telaten mewarnai kain batik yang telah digambar motifnya. Suasana santai penuh canda justru menjadi energi tersendiri dalam proses produksi.

Usaha Batik Stilir Jepara ini telah dirintis sejak tahun 2013 dan terus berkembang hingga kini. April mengungkapkan, perjalanan usahanya berawal dari pengalaman mengikuti lomba batik tingkat internasional di Yogyakarta.

“Dari pengalaman lomba itu, akhirnya 2013 saya memberanikan diri mendirikan Batik Stilir. Karya saya yang terinspirasi dari gempa Padang justru menang di tingkat internasional,” ujarnya dikutip dari sumber, Minggu (3/5).

Keberhasilan tersebut menjadi titik balik bagi April untuk serius mengembangkan usaha batik sekaligus membuka pelatihan bagi masyarakat.

 

Kini, Rumah Kreatif Batik Stilir tak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga wadah belajar membatik bagi pelajar hingga warga sekitar.

Mayoritas pekerja yang terlibat merupakan ibu rumah tangga. Selain membantu produksi batik tulis, mereka juga mengerjakan batik cap dengan sistem fleksibel yang bisa dikerjakan dari rumah.

“Total ada enam orang yang membantu. Untuk batik cap, pengerjaannya bisa dibawa pulang oleh tetangga sekitar,” jelasnya.

Meski berskala rumahan, jangkauan pasar Batik Stilir Jepara terbilang luas. Produk mereka telah diminati berbagai kalangan, mulai dari instansi lokal hingga pembeli luar daerah bahkan luar negeri.

“Pembeli paling banyak memang dari instansi di Jepara, tapi ada juga dari luar Jawa dan luar negeri, seperti Taiwan,” ungkap April.

Dari sisi harga, batik cap dijual mulai Rp130 ribu hingga Rp200 ribu per lembar. Sementara batik tulis dibanderol sekitar Rp500 ribu per kain, menyesuaikan tingkat kerumitan motif.

Tak berhenti di batik, April juga terus melakukan inovasi. Ia kini mulai mengembangkan produk ecoprint dan berencana merambah batik lukis sebagai langkah ekspansi usaha ke depan.

Sebagai pelaku industri kreatif lokal, April berharap masyarakat semakin bangga menggunakan produk batik khas Jepara. Ia ingin batik Jepara mampu bersaing dengan daerah lain dan menjadi identitas budaya yang kuat.

“Harapannya masyarakat sadar bahwa Jepara juga punya batik khas. Jadi bisa lebih bangga memakai produk sendiri,” pungkasnya.

 

***

Sumber: IR.