Queensha.id – Maluku Utara,

 

Kisah tentang kekuasaan sering kali dipenuhi narasi ambisi dan strategi politik. Namun perjalanan Sherly Tjoanda justru berangkat dari luka yang sangat pribadi yang kehilangan suami dalam sebuah tragedi yang mengguncang sekaligus membuka matanya terhadap kenyataan pahit pelayanan publik di daerah.

 

Nama Sherly Tjoanda beberapa waktu terakhir kerap muncul di berbagai platform media sosial. Banyak orang awalnya hanya mengenalnya sekilas sebagai sosok perempuan cantik dari keluarga berada. Penilaian itu tidak sepenuhnya salah. Sherly memang lahir dari keluarga mapan dan memiliki latar pendidikan internasional.

 

Ia merupakan lulusan Inholland University of Applied Sciences di Belanda dengan gelar ganda. Dalam perjalanan kariernya, Sherly sempat menjabat sebagai direktur di perusahaan keluarga, aktif di kegiatan sosial melalui Yayasan Bela Peduli, serta memimpin organisasi pertanian sebagai Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Maluku Utara.

Namun takdir hidupnya berubah drastis pada tahun 2024.

 

Tragedi yang Mengubah Segalanya
Saat itu, suaminya, Benny Laos, sedang maju dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Maluku Utara. Di tengah masa kampanye, musibah terjadi. Speedboat yang mereka tumpangi meledak ketika sedang mengisi bahan bakar. Lima orang meninggal dunia dalam insiden tersebut, termasuk Benny Laos.

 

Sherly selamat, tetapi mengalami luka bakar serius di bagian kaki hingga harus menjalani perawatan panjang. Dalam kondisi fisik terluka dan hati yang hancur, ia juga dihadapkan pada kenyataan pahit lain: fasilitas kesehatan di daerah tersebut sangat terbatas. Bahkan rumah sakit tidak memiliki alat pacu jantung ketika suaminya berada dalam kondisi kritis.

 

Dalam sejumlah wawancara dan podcast, Sherly pernah menyampaikan kalimat yang mengguncang banyak orang.

 

“Perhatikan kesehatan masyarakat. Saya di sini sakit, terbakar. Semua obat habis. Rumah sakitnya sangat buruk, sangat tidak layak. Tolong manusiakan manusia, siapa pun yang terpilih nanti.”

 

Pernyataan itu menjadi potret getir tentang kesenjangan layanan kesehatan di daerah terpencil.

 

Dari Keputusasaan Menuju Keputusan Besar

Setelah tragedi tersebut, Sherly sempat berpikir meninggalkan Maluku Utara. Hidupnya sebenarnya sudah sangat mapan. Ia bahkan sempat mempertimbangkan menjual semua aset dan kembali ke Jakarta.

 

Namun dalam masa perenungan, ia menyadari satu hal penting: penderitaan yang ia rasakan hanyalah sebagian kecil dari apa yang setiap hari dialami masyarakat Maluku Utara.

 

Beberapa hari setelah tragedi, para ketua partai politik datang meminta Sherly melanjutkan perjuangan suaminya. Keluarga besar awalnya menolak keras. Bagi mereka, tidak ada alasan untuk terjun ke dunia politik yang penuh risiko.

 

Namun Sherly mengambil keputusan yang mengejutkan.

Di tengah kondisi fisik yang belum pulih, ia menyatakan siap melanjutkan perjuangan suaminya demi masyarakat Maluku Utara.

 

Kampanye dari Kursi Perawatan

Kampanye politik yang dijalani Sherly jauh dari kata ideal. Ketika kandidat lain turun langsung menyapa warga, ia masih menjalani pemulihan akibat luka bakar.

 

Sebagian besar komunikasi dengan masyarakat dilakukan melalui media sosial. Bahkan menjelang akhir masa kampanye, Sherly baru bisa berjalan dengan bantuan tongkat.

 

Namun hasilnya di luar dugaan. Dalam pemilihan tersebut, ia berhasil meraih sekitar 51 persen suara dan memenangkan kontestasi.

 

Kemenangan itu menjadi simbol kuat bahwa publik melihat sesuatu yang lebih dari sekadar figur politik biasa.
Simbol Ketangguhan Perempuan
Sherly berkali-kali menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki ambisi pribadi untuk menjadi gubernur.

 

“Hidup saya sudah cukup. Saya ada di sini bukan untuk diri saya, tapi untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan suami saya benar, bahwa rakyat Maluku Utara bisa hidup lebih sejahtera.”

 

Pernyataan itu membuat banyak orang menyebutnya sebagai simbol kekuatan perempuan dalam politik Indonesia.

 

Langkah Kebijakan Setelah Menjabat

Dalam tahun pertama kepemimpinannya, Sherly mulai memperkenalkan sejumlah kebijakan yang cukup mencuri perhatian.

 

Beberapa di antaranya adalah efisiensi anggaran daerah hingga sekitar 30 persen tanpa mengurangi pembangunan infrastruktur, program sekolah gratis untuk siswa SMA, SMK, dan SLB negeri sejak April 2025, serta perluasan layanan kesehatan melalui program Universal Health Coverage (UHC).

 

Per 1 Juni 2025, Maluku Utara menjadi salah satu provinsi yang mencapai status UHC sehingga warga yang memiliki KTP daerah dapat memperoleh layanan kesehatan secara gratis.

 

Di sektor ekonomi, provinsi ini juga mempertahankan pertumbuhan ekonomi tinggi yang didorong oleh hilirisasi industri nikel. Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun meningkat signifikan, sementara indikator pencegahan korupsi daerah menunjukkan perbaikan.

 

Ujian yang Masih Panjang

Meski begitu, perjalanan Sherly Tjoanda di dunia politik tentu tidak akan selalu mulus. Tantangan kepentingan politik, tekanan kekuasaan, serta ekspektasi publik akan terus menguji konsistensinya.

 

Dalam sebuah podcast bersama jurnalis Akbar Faizal, ia bahkan diingatkan bahwa suatu saat akan ada pihak yang menuntut “timbal balik” atas dukungan politik.

 

Itulah ujian yang kerap menentukan apakah seorang pemimpin tetap memegang idealisme atau justru terseret arus kekuasaan.

 

Namun bagi banyak orang, perjalanan Sherly Tjoanda hingga hari ini sudah menjadi cerita yang menginspirasi: tentang seorang perempuan yang bangkit dari tragedi pribadi, lalu memilih menjadikannya sebagai bahan bakar untuk memperjuangkan perubahan bagi orang banyak.

 

***
(Queensha Jepara – 15 Maret 2026)