Queensha.id – Solo,
Penampilan nyentrik dengan rambut mohawk merah, tindik di hidung, jaket kulit hitam hingga sepatu boot tak membuat Hafid alias Kipli (22) malu menjalani profesinya sebagai kurir sayur di Kota Solo, Jawa Tengah. Di tengah stigma masyarakat terhadap anak punk, Kipli justru membuktikan bahwa gaya hidup punk tak selalu identik dengan kenakalan atau hidup di jalanan.
Setiap pagi, Kipli berangkat menuju Pasar Legi Solo untuk kulakan sayur segar sebelum mengantarkannya kepada pelanggan Depot Sayur Sejahtera, usaha milik rekannya, Hilman Ramadhon (29).
Pria asal Pemalang itu mengaku kehidupannya berubah sejak pindah ke Solo pada awal 2025. Jika dulu waktunya banyak dihabiskan tanpa arah, kini ia terbiasa bangun sejak subuh demi bekerja.
“Sekarang saya bangun jam lima pagi buat ke pasar. Dulu bangun jam 10 pagi dan bingung mau ngapain,” ujar Kipli.
Tetap Punk, Tapi Mandiri
Meski bekerja sebagai kurir sayur, Kipli tetap mempertahankan identitas punk yang melekat pada dirinya. Namun menurutnya, punk bukan sekadar tampilan luar seperti rambut berwarna mencolok atau tindikan.
Ia menjelaskan bahwa punk mengajarkan tentang kemandirian, tanggung jawab, dan semangat “Do It Yourself” atau menyelesaikan masalah dengan usaha sendiri.
“Punk itu soal cara berpikir dan mentalitas. Bukan cuma fashion,” katanya.
Pandangan tersebut membuat Kipli mantap menerima tawaran Hilman untuk bergabung di Depot Sayur Sejahtera. Pertemuan keduanya terjadi dalam sebuah acara Vespa di Solo pada 2024 lalu.
Saat itu, Hilman yang juga berlatar belakang anak punk tengah merintis usaha sayur setelah sebelumnya berjualan kopi keliling.
Sering Dipandang Aneh di Pasar
Penampilan Kipli kerap memancing perhatian masyarakat saat berada di pasar tradisional. Tak sedikit yang merasa takut atau heran melihat sosok berambut merah membeli sayuran.
Ia mengaku pernah mendengar pembeli lain bertanya kepada pedagang soal dirinya karena penampilannya dianggap tidak biasa.
Namun Kipli memilih santai menghadapi komentar tersebut. Menurutnya, masyarakat masih banyak yang menilai anak punk hanya dari penampilan luar.
“Mereka tahunya punk itu rebel karena tindikan atau tampilannya saja,” ujarnya.
Belajar Disiplin dan Bertanggung Jawab
Berjualan sayur membuat Kipli belajar disiplin serta lebih sering berinteraksi dengan banyak orang. Ia merasa kehidupannya kini jauh lebih terarah dibanding sebelumnya.
Selain mendapatkan penghasilan, Kipli juga menikmati aktivitas motoran saat mengantar pesanan pelanggan di Solo dan sekitarnya.
“Sekarang jadi lebih disiplin karena ini tanggung jawab,” katanya.
Ubah Stigma Tentang Anak Punk
Sementara itu, Hilman Ramadhon mengatakan label anak punk yang melekat pada bisnisnya justru menjadi motivasi untuk mematahkan stigma negatif masyarakat.
Selama ini anak punk sering dicap identik dengan pengamen jalanan atau kehidupan bebas. Melalui usaha Depot Sayur Sejahtera, ia ingin menunjukkan bahwa anak punk juga mampu bekerja keras dan mandiri.
“Ada kok anak punk yang mau kerja dan bertanggung jawab dengan hidupnya,” ujar Hilman.
Baginya, punk adalah bagian perjalanan hidup yang memberikan banyak pelajaran berharga, terutama soal kebebasan berpikir dan kemandirian.
“Memangnya kenapa kalau anak punk jadi tukang sayur?” katanya sambil tersenyum.
***
Sumber: Diolah dari laporan Kompas.com

Tinggalkan Balasan