Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama bagi generasi muda. Internet dan media sosial kini menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari anak muda Indonesia.
Namun di balik kemudahan tersebut, berbagai ancaman mulai muncul dan dinilai semakin mengkhawatirkan.
Sejumlah pakar pendidikan dan psikologi di Indonesia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tanpa kontrol dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, pola pikir, hingga kehidupan sosial generasi muda.
Psikolog klinis anak dan remaja Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto menilai perkembangan teknologi digital harus dibarengi dengan pengawasan dan pendidikan karakter sejak dini.
Menurutnya, anak-anak dan remaja saat ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya karena hampir seluruh informasi bisa diakses melalui telepon genggam.
“Anak muda sekarang sangat mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat di media sosial. Karena itu pendampingan orang tua sangat penting,” ujarnya dalam berbagai kesempatan edukasi tentang anak dan teknologi.
Sementara itu, psikolog klinis Liza Marielly Djaprie menyoroti meningkatnya gangguan kesehatan mental akibat tekanan media sosial.
Menurut Liza, banyak remaja mengalami kecemasan karena terus membandingkan hidup mereka dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di internet.
Fenomena ini membuat sebagian anak muda merasa tidak percaya diri, mudah stres, hingga mengalami krisis identitas.
Media Sosial Bisa Memengaruhi Mental Anak Muda
Platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook memang memberi ruang kreativitas yang besar.
Namun di sisi lain, penggunaan berlebihan dapat memicu kecanduan digital.
Pakar pendidikan dari Universitas Indonesia, Arief Rachman pernah menegaskan bahwa pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan kemajuan teknologi.
Menurutnya, kecanggihan digital tidak boleh membuat generasi muda kehilangan nilai moral, empati, dan kemampuan bersosialisasi secara nyata.
“Teknologi harus digunakan untuk meningkatkan kualitas manusia, bukan justru menjauhkan manusia dari kehidupan sosialnya,” ungkapnya dalam berbagai forum pendidikan nasional.
Cyberbullying dan Hoaks Jadi Ancaman Baru
Selain kecanduan gadget, ancaman lain yang kini marak adalah cyberbullying atau perundungan digital.
Anak muda sering menjadi korban hinaan, penyebaran fitnah, hingga pelecehan di media sosial.
Psikolog menyebut dampak bullying digital bisa jauh lebih berat dibanding perundungan langsung karena jejaknya dapat tersebar luas dan sulit dihapus.
Di sisi lain, derasnya arus informasi di internet juga membuat banyak remaja mudah terpapar hoaks dan informasi menyesatkan.
Kurangnya kemampuan memilah informasi membuat generasi muda rentan terpengaruh isu palsu, propaganda, bahkan penipuan digital.
Budaya Instan dan Menurunnya Interaksi Sosial
Kemajuan teknologi juga memunculkan budaya instan di kalangan anak muda.
Segala sesuatu kini bisa didapat dengan cepat, mulai dari hiburan, komunikasi, hingga informasi. Kondisi ini dikhawatirkan membuat generasi muda menjadi kurang sabar dan mudah menyerah dalam menghadapi proses kehidupan nyata.
Selain itu, interaksi sosial secara langsung juga mulai menurun.
Meski aktif di dunia maya, banyak anak muda justru merasa kesepian di kehidupan nyata karena kurangnya hubungan emosional yang mendalam dengan lingkungan sekitar.
Orang Tua dan Sekolah Diminta Aktif Mengawasi
Para pakar menilai ancaman era digital tidak bisa dihindari sepenuhnya, namun dapat diminimalkan melalui pendidikan dan pengawasan yang tepat.
Orang tua diminta membangun komunikasi terbuka dengan anak mengenai penggunaan internet dan media sosial.
Sekolah juga diharapkan tidak hanya fokus pada akademik, tetapi ikut mengajarkan literasi digital, etika bermedia sosial, serta pentingnya menjaga kesehatan mental.
Teknologi Harus Jadi Sarana Berkembang
Meski memiliki banyak risiko, para ahli menegaskan bahwa teknologi tetap bisa menjadi alat positif jika digunakan secara bijak.
Internet dapat membantu anak muda belajar, berkarya, membangun usaha, hingga memperluas wawasan.
Karena itu, generasi muda Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan digital untuk hal produktif tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dan kehidupan sosial di dunia nyata.
Queensha Jepara, 20 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan