Queensha.id – Edukasi Kesehatan,
Begadang demi pekerjaan, tekanan hidup yang terus meningkat, hingga kebiasaan merokok kini menjadi bagian dari gaya hidup banyak anak muda. Ironisnya, kebiasaan yang sering dianggap biasa itu ternyata diam-diam dapat meningkatkan risiko serangan jantung di usia muda.
Dokter spesialis jantung dari Mayapada Hospital Tangerang, dr. Aron Husink, mengingatkan bahwa generasi muda saat ini banyak terjebak dalam budaya toxic productivity yang berbahaya bagi kesehatan jantung.
Menurutnya, penyakit jantung koroner kini tidak hanya menyerang usia lanjut, tetapi mulai banyak ditemukan pada usia produktif akibat pola hidup yang tidak sehat.
“Risiko semakin tinggi bila disertai hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga,” ujar dr. Aron dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Begadang dan Stres Jadi Bom Waktu bagi Jantung
Kebiasaan begadang ternyata tidak sekadar membuat tubuh lelah dan mengantuk. Kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon stres, tekanan darah, kadar gula darah, hingga metabolisme lemak dalam tubuh.
Kondisi tersebut membuat jantung bekerja lebih keras dibanding kondisi normal.
Tak hanya itu, stres berkepanjangan juga dinilai menjadi salah satu faktor paling berbahaya yang sering disepelekan anak muda.
Saat seseorang terus berada dalam tekanan mental, tubuh akan berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Akibatnya, detak jantung dan tekanan darah meningkat secara tidak normal.
“Tubuh yang terus berada dalam mode waspada memaksa jantung bekerja lebih keras dari seharusnya,” jelasnya.
Rokok Percepat Kerusakan Pembuluh Darah
Selain begadang dan stres, kebiasaan merokok disebut menjadi faktor yang sangat memperparah kondisi jantung.
Menurut dr. Aron, zat berbahaya dalam rokok dapat merusak dinding pembuluh darah, mempercepat pembentukan plak, hingga meningkatkan risiko pembekuan darah.
“Pada orang muda yang tampak sehat sekalipun, merokok membuat pembuluh darah lebih rentan mengalami gangguan,” ungkapnya.
Hal itulah yang menyebabkan banyak kasus serangan jantung mendadak kini mulai menyerang usia muda, bahkan pada mereka yang terlihat sehat secara fisik.
Gejala Serangan Jantung Sering Disalahartikan
Dokter Aron juga mengingatkan bahwa tubuh sebenarnya sudah memberikan sinyal sebelum serangan jantung terjadi. Namun, banyak anak muda justru menganggapnya sebagai gejala biasa.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai di antaranya:
– Nyeri dada seperti ditekan atau tertindih
– Rasa panas di dada yang menjalar ke lengan kiri
– Sesak napas
– Keringat dingin
– Mual dan pusing
– Tubuh terasa sangat lemas
– Jantung berdebar tidak normal
Sayangnya, banyak orang mengira gejala tersebut hanya masuk angin, asam lambung, atau kelelahan biasa.
“Gejala-gejala itu sering disalahartikan sehingga anak muda tidak langsung memeriksakan diri,” terang dr. Aron.
Gaya Hidup Sehat Jadi Kunci Pencegahan
Meski terdengar menakutkan, risiko serangan jantung di usia muda sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan sederhana.
Dokter Aron menyarankan masyarakat mulai menghentikan kebiasaan merokok, tidur cukup, mengelola stres dengan baik, menjaga pola makan sehat, dan rutin berolahraga.
“Tidak harus langsung olahraga berat. Jalan kaki, naik tangga, atau bersepeda ringan pun sudah membantu menjaga kesehatan jantung,” katanya.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin juga sangat dianjurkan sebagai langkah deteksi dini.
Anak Muda Jangan Merasa Kebal Penyakit Jantung
Fenomena meningkatnya kasus penyakit jantung di usia muda menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak boleh diabaikan hanya karena merasa masih muda dan kuat.
Gaya hidup modern yang penuh tekanan, kurang istirahat, serta pola hidup tidak sehat perlahan dapat menjadi “bom waktu” bagi kesehatan jantung.
Karena itu, para ahli mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dan tidak memaksakan tubuh bekerja tanpa henti demi mengejar produktivitas.
***
Queensha Jepara, Jum’at (29/5/2026).

Tinggalkan Balasan