Queensha.id – Edukasi SosialĀ 

 

 

Perdebatan mengenai siapa yang memiliki nafsu seksual lebih tinggi antara laki-laki dan perempuan kerap muncul di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa laki-laki memiliki dorongan seksual lebih besar, sementara perempuan dianggap lebih mampu mengendalikan diri.

Namun, apakah anggapan tersebut benar menurut ilmu pengetahuan?

Para ahli psikologi, sosiologi, dan kesehatan menjelaskan bahwa nafsu seksual merupakan bagian alami dari manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Perbedaannya terletak pada faktor biologis, psikologis, sosial, budaya, serta lingkungan yang memengaruhi cara seseorang mengekspresikan dorongan tersebut.

 

 

Secara Ilmiah, Laki-Laki Cenderung Memiliki Dorongan Seksual Lebih Tinggi

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa secara rata-rata laki-laki memiliki tingkat hasrat seksual yang lebih tinggi dibanding perempuan.

Hal ini dipengaruhi oleh hormon testosteron yang jumlahnya jauh lebih besar pada tubuh laki-laki. Hormon tersebut berperan penting dalam meningkatkan gairah seksual, fantasi seksual, dan keinginan untuk melakukan aktivitas seksual.

Namun para ilmuwan juga menegaskan bahwa tidak semua laki-laki memiliki nafsu seksual tinggi dan tidak semua perempuan memiliki nafsu seksual rendah.

Setiap individu berbeda-beda tergantung usia, kesehatan, kondisi psikologis, pendidikan, pengalaman hidup, serta lingkungan sosialnya.

 

 

Perempuan Juga Memiliki Nafsu Seksual

Salah satu kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa perempuan tidak memiliki nafsu seksual yang kuat.

Faktanya, perempuan juga memiliki hasrat seksual sebagai bagian dari fitrah manusia.

Perbedaannya, banyak penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih dipengaruhi faktor emosional, rasa aman, kedekatan psikologis, perhatian, dan hubungan perasaan dibanding faktor fisik semata.

Karena itu, ketertarikan emosional sering kali menjadi faktor penting dalam hubungan laki-laki dan perempuan.

 

 

Mengapa Sebagian Perempuan Mudah Terbujuk Melakukan Hubungan Seksual?

Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara sederhana karena setiap kasus memiliki latar belakang berbeda.

Para psikolog menjelaskan beberapa faktor yang dapat memengaruhi seseorang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, antara lain:

 

 

1. Faktor Emosional

Banyak perempuan yang merasa dicintai, diperhatikan, dan diyakinkan akan masa depan hubungan mereka.

Dalam kondisi tertentu, rasa percaya yang besar kepada pasangan dapat membuat seseorang mengabaikan risiko yang ada.

 

2. Tekanan dari Pasangan

Tidak sedikit kasus di mana perempuan mendapat tekanan psikologis dari pasangan.

Misalnya dengan kalimat:

  • “Kalau sayang buktikan.”
  • “Semua orang juga melakukannya.”
  • “Nanti kita pasti menikah.”

Tekanan semacam ini sering kali membuat seseorang mengambil keputusan yang akhirnya disesali.

 

3. Kurangnya Pendidikan dan Pengawasan

Minimnya pendidikan mengenai hubungan sehat, moral, dan konsekuensi perilaku seksual juga menjadi faktor penting.

Anak muda yang tumbuh tanpa pendampingan keluarga yang baik lebih rentan mengambil keputusan berisiko.

 

4. Pengaruh Lingkungan dan Media Sosial

Di era digital, berbagai konten yang menormalisasi seks bebas sangat mudah diakses.

Tanpa fondasi moral yang kuat, seseorang dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

 

 

Jangan Menyalahkan Perempuan Saja

Para ahli sosiologi mengingatkan bahwa hubungan seksual di luar nikah hampir selalu melibatkan dua pihak.

Karena itu, menyalahkan perempuan semata merupakan pandangan yang tidak adil.

Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab moral atas keputusan yang mereka ambil.

Masyarakat perlu membangun budaya yang mengedepankan edukasi, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia, bukan hanya memberikan stigma kepada satu pihak.

 

 

Pandangan Islam tentang Nafsu Seksual

Dalam Islam, nafsu seksual bukanlah sesuatu yang buruk.

Nafsu merupakan fitrah yang diberikan Allah SWT kepada manusia untuk menjaga keberlangsungan keturunan dan membangun keluarga.

Namun Islam mengajarkan bahwa nafsu harus dikelola dengan cara yang benar.

Al-Qur’an dan hadis banyak mengingatkan umat Islam untuk menjaga pandangan, menjaga pergaulan, serta menghindari perbuatan zina.

Islam tidak hanya memerintahkan perempuan menjaga kehormatan dirinya, tetapi juga memerintahkan laki-laki untuk menjaga pandangan dan mengendalikan hawa nafsunya.

Karena itu, tanggung jawab moral dalam Islam berlaku bagi kedua belah pihak.

 

 

Islam Mengajarkan Pengendalian Diri

Menurut para ulama, kekuatan seseorang bukan diukur dari kemampuannya menuruti nafsu, melainkan kemampuannya mengendalikan nafsu tersebut.

Menahan diri dari hubungan yang dilarang agama dipandang sebagai bentuk ketakwaan dan kedewasaan.

Islam juga membuka pintu taubat bagi siapa pun yang pernah melakukan kesalahan dan ingin memperbaiki diri.

 

 

Pandangan Pengamat Sosial Asal Jepara, Purnomo Wardoyo

Menurut pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, fenomena meningkatnya hubungan seksual di luar nikah tidak dapat dilepaskan dari perubahan pola pergaulan masyarakat modern.

Ia menilai bahwa perkembangan teknologi informasi membuat anak muda lebih mudah terpapar berbagai nilai dan gaya hidup yang belum tentu sesuai dengan budaya ketimuran maupun nilai agama yang dianut masyarakat Indonesia.

Menurutnya, masalah utama bukan semata-mata soal nafsu seksual, melainkan lemahnya kontrol sosial dari keluarga, lingkungan, dan pendidikan karakter.

Purnomo Wardoyo berpandangan bahwa orang tua perlu lebih aktif membangun komunikasi dengan anak-anak mereka dibanding hanya memberikan larangan.

Ia juga menilai bahwa pendidikan moral dan agama harus berjalan seiring dengan pemahaman tentang risiko sosial, psikologis, dan kesehatan yang dapat muncul akibat hubungan seksual yang tidak bertanggung jawab.

 

 

Edukasi Menjadi Kunci

Para ahli sepakat bahwa solusi utama bukan sekadar menyalahkan laki-laki atau perempuan.

Yang lebih penting adalah membangun pendidikan karakter, memperkuat nilai agama, meningkatkan komunikasi keluarga, serta menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi generasi muda.

Dengan pemahaman yang benar, anak muda dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan serta hubungan dengan lawan jenis.

Pada akhirnya, nafsu seksual adalah bagian alami dari manusia. Yang menentukan kualitas seseorang bukan ada atau tidaknya nafsu tersebut, melainkan bagaimana ia mengelola dan mengarahkannya sesuai nilai moral, etika, dan ajaran agama yang diyakininya.

 

***

Queensha Jepara, Senin, 1 Juni 2026.