Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Dalam kehidupan sehari-hari, konflik sering kali tidak muncul karena persoalan besar. Sebaliknya, banyak pertengkaran justru berawal dari hal-hal sederhana, seperti salah ucap, candaan yang berlebihan, sindiran yang tidak tepat, atau komentar yang dianggap menyinggung perasaan.

Fenomena tersebut semakin sering terjadi di tengah kehidupan masyarakat modern yang serba cepat dan dipenuhi interaksi, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Menurut pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, kemampuan menjaga perasaan orang lain merupakan salah satu keterampilan sosial yang semakin penting dimiliki oleh setiap individu.

“Sering kali orang menganggap ucapan mereka biasa saja, tetapi bagi orang lain bisa menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan. Karena itu, menjaga perkataan adalah bentuk penghormatan terhadap sesama,” ujarnya.

 

 

Orang Dewasa Sering Kali Lebih Sensitif

Banyak orang beranggapan bahwa anak muda lebih mudah tersinggung dibandingkan orang dewasa.

Namun dalam kenyataannya, orang yang sudah berumah tangga justru sering memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi.

Hal ini bukan tanpa alasan.

Orang dewasa biasanya memikul lebih banyak tanggung jawab, seperti:

– Memenuhi kebutuhan keluarga.
– Membayar cicilan.
– Mengurus pendidikan anak.
– Menanggung beban pekerjaan.
– Menghadapi tekanan ekonomi.
– Menjaga hubungan keluarga besar.

Beban tersebut membuat kondisi emosional seseorang menjadi lebih kompleks dibandingkan masa remaja.

Sebuah candaan yang menyentuh persoalan ekonomi, pekerjaan, keluarga, atau kehidupan pribadi bisa terasa jauh lebih menyakitkan bagi orang dewasa.

Meski demikian, bukan berarti generasi muda tidak mudah tersinggung.

Anak muda juga memiliki sensitivitas tersendiri, terutama terkait penampilan, pergaulan, prestasi, hubungan pertemanan, hingga kehidupan pribadinya.

Karena itu, kehati-hatian dalam berbicara perlu diterapkan kepada siapa pun tanpa memandang usia.

 

 

Bercanda Memang Boleh, Tetapi Ada Batasnya

Dalam budaya masyarakat Indonesia, bercanda merupakan bagian penting dari pergaulan.

Candaan dapat mencairkan suasana, mempererat hubungan, dan menghilangkan ketegangan.

Namun menurut Purnomo Wardoyo, banyak orang gagal memahami bahwa humor juga memiliki batas etika.

“Bercanda itu baik, tetapi jangan sampai menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan yang membuat mereka malu atau terluka,” katanya.

Beberapa topik yang sebaiknya tidak dijadikan bahan candaan antara lain:

– Kondisi ekonomi seseorang.
– Pekerjaan dan penghasilan.
– Fisik atau penampilan.
– Status pernikahan.
– Kondisi kesehatan.
– Pendidikan.
– Masalah keluarga.
– Anak dan pasangan.
– Musibah yang pernah dialami.

Candaan yang menyentuh area sensitif tersebut berpotensi menimbulkan luka batin yang tidak terlihat.

Bahkan tidak sedikit hubungan pertemanan yang rusak hanya karena ucapan yang awalnya dianggap sekadar gurauan.

 

 

Mengapa Ucapan Bisa Menyakitkan?

Secara psikologis, setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda.

Kalimat yang dianggap biasa oleh seseorang belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain.

Contohnya:

– Menanyakan kapan menikah.
– Menanyakan kapan punya anak.
– Menanyakan jumlah gaji.
– Mengomentari bentuk tubuh.
– Membandingkan dengan orang lain.
– Menyinggung kegagalan masa lalu.

Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin terdengar ringan.

Namun bagi orang yang sedang menghadapi tekanan hidup, pertanyaan semacam itu bisa menjadi sumber stres dan ketidaknyamanan.

 

 

Obrolan Apa yang Bisa Mencegah Pertengkaran?

Menurut Purnomo Wardoyo, salah satu cara menjaga hubungan sosial adalah memilih topik pembicaraan yang positif dan membangun.

 

 

Beberapa topik yang relatif aman dalam pergaulan antara lain:

 

1. Membahas Hobi dan Minat

Hobi biasanya menjadi topik yang menyenangkan karena membuat seseorang berbicara tentang hal yang disukainya.

 

Misalnya:

– Musik.
– Olahraga.
– Memancing.
– Berkebun.
– Kuliner.
– Fotografi.

 

2. Membahas Pengalaman Positif

Berbagi pengalaman menarik dapat menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan.

Misalnya pengalaman liburan, kegiatan sosial, atau pencapaian pribadi.

 

3. Membicarakan Solusi dan Inspirasi

Alih-alih membicarakan kekurangan orang lain, lebih baik berdiskusi mengenai solusi, peluang usaha, pendidikan anak, atau pengembangan diri.

 

4. Membahas Peristiwa Aktual Secara Santun

Isu sosial, budaya, pendidikan, dan lingkungan dapat menjadi bahan diskusi yang bermanfaat selama dilakukan dengan saling menghargai pendapat.

 

5. Memberikan Apresiasi

Setiap orang pada dasarnya senang dihargai.

Memberikan pujian yang tulus sering kali lebih bermanfaat dibandingkan mencari kekurangan orang lain.

 

 

Kebiasaan Ceplas-Ceplos Bisa Menimbulkan Gesekan

Salah satu penyebab konflik sosial yang paling sering terjadi adalah kebiasaan berbicara tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Ucapan spontan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu dapat menimbulkan:

– Kesalahpahaman.
– Perselisihan antar teman.
– Konflik keluarga.
– Pertengkaran antar tetangga.
– Keretakan hubungan kerja.

Bahkan dalam beberapa kasus, perselisihan yang awalnya hanya berupa adu mulut dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Karena itu, membiasakan diri berpikir sebelum berbicara merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar dalam menjaga keharmonisan sosial.

 

 

Bijak Berbicara Adalah Tanda Kedewasaan

Menurut Purnomo Wardoyo, ukuran kedewasaan seseorang tidak hanya dilihat dari usia, jabatan, atau kekayaan.

Kedewasaan juga tercermin dari cara seseorang berbicara dan memperlakukan orang lain.

Orang yang dewasa akan memahami bahwa setiap individu memiliki perasaan yang harus dihormati.

Mereka tidak mudah merendahkan, tidak gemar menyindir, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan hiburan.

“Kalau ingin dihargai, maka mulailah dengan menghargai orang lain melalui ucapan kita. Kata-kata yang baik tidak membutuhkan biaya, tetapi nilainya sangat besar dalam menjaga hubungan sosial,” ujar Purnomo.

 

 

Membangun Budaya Komunikasi yang Sehat

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam, kemampuan menjaga ucapan menjadi salah satu kunci terciptanya lingkungan yang harmonis.

Perbedaan pendapat memang tidak bisa dihindari, tetapi konflik yang tidak perlu dapat dicegah apabila masyarakat membiasakan diri berbicara dengan santun, menghargai perasaan orang lain, dan memahami batasan dalam bercanda.

Karena pada akhirnya, hubungan yang baik tidak hanya dibangun melalui tindakan, tetapi juga melalui kata-kata yang keluar dari mulut kita setiap hari.

 

***

(Queensha Jepara, Selasa 2 Juni 2026)