Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Fenomena maraknya komentar negatif di media sosial seperti Facebook dan Instagram kembali menjadi perhatian masyarakat. Tidak sedikit unggahan yang sebenarnya berisi kabar baik, prestasi, kegiatan sosial, hingga momen kebahagiaan justru dibanjiri komentar bernada sinis, kritik berlebihan, bahkan prasangka buruk atau suudzon.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada tokoh publik, artis, pejabat, maupun influencer, tetapi juga dialami masyarakat biasa yang aktif membagikan aktivitas sehari-hari di media sosial.

Lantas, mengapa komentar negatif sering kali lebih mendominasi dibanding komentar positif?

 

 

Media Sosial Jadi Ruang Pelampiasan Emosi

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai media sosial saat ini telah menjadi ruang terbuka bagi siapa saja untuk mengekspresikan pendapatnya.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga membuat sebagian orang lebih berani mengungkapkan kritik, kemarahan, bahkan prasangka yang mungkin tidak akan mereka sampaikan secara langsung di dunia nyata.

“Media sosial memberikan ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk berpendapat. Sayangnya, sebagian orang merasa lebih berani berkomentar ketika berada di balik layar ponsel karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang dikomentari,” ujar Purnomo Wardoyo, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian netizen lebih mudah menuliskan komentar negatif tanpa mempertimbangkan dampak psikologis yang diterima orang lain.

 

 

Pengalaman Buruk Membentuk Sikap Curiga

Purnomo menjelaskan, salah satu faktor yang memicu munculnya sikap suudzon adalah pengalaman hidup seseorang.

Orang yang pernah mengalami kekecewaan, pengkhianatan, atau kebohongan cenderung menjadi lebih curiga terhadap orang lain.

“Mereka sering kali melihat suatu informasi dengan sudut pandang negatif karena pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan. Akibatnya, sebelum mengetahui fakta sebenarnya, mereka sudah lebih dulu berprasangka,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut sering terlihat di kolom komentar media sosial ketika sebuah informasi baru muncul. Sebagian netizen langsung menyimpulkan sesuatu tanpa menunggu klarifikasi atau fakta yang lengkap.

 

 

Faktor Insecure dan Perbandingan Sosial

Selain pengalaman hidup, faktor psikologis juga berperan besar dalam membentuk perilaku netizen di dunia maya.

Purnomo menilai media sosial saat ini menjadi tempat yang memperlihatkan berbagai pencapaian, kesuksesan, dan kebahagiaan orang lain.

Bagi sebagian orang yang memiliki rasa kurang percaya diri atau insecure, kondisi tersebut dapat memunculkan perasaan iri, tidak nyaman, atau merasa tertinggal.

“Ketika melihat orang lain sukses, memiliki kehidupan yang terlihat bahagia, atau mendapatkan perhatian banyak orang, sebagian netizen justru mencari kekurangan yang bisa dikritik. Ini merupakan fenomena sosial yang cukup sering terjadi,” katanya.

 

 

Budaya Kritik Lebih Menarik Perhatian

Fenomena lain yang terjadi di media sosial adalah kecenderungan masyarakat untuk lebih tertarik pada hal-hal negatif dibanding hal-hal positif.

Menurut berbagai penelitian sosial, kabar kontroversial, konflik, dan kritik sering kali memperoleh interaksi lebih tinggi dibandingkan konten yang berisi apresiasi atau pujian.

Akibatnya, sebagian pengguna media sosial tanpa sadar lebih sering memberikan komentar negatif karena dianggap lebih menarik perhatian.

“Komentar negatif biasanya memancing perdebatan yang panjang. Itulah sebabnya banyak orang lebih cepat bereaksi terhadap hal-hal yang dianggap salah dibanding memberikan apresiasi terhadap hal-hal yang baik,” ujar Purnomo.

 

 

Kurangnya Kebiasaan Tabayyun

Dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam ajaran Islam, masyarakat diajarkan untuk melakukan tabayyun atau mencari kejelasan informasi sebelum mengambil kesimpulan.

Namun di era digital yang serba cepat, banyak orang langsung bereaksi hanya berdasarkan potongan informasi yang mereka lihat.

Akibatnya, muncul berbagai komentar yang belum tentu sesuai fakta.

“Kadang seseorang hanya membaca judul atau melihat foto tanpa memahami konteks keseluruhan. Dari situlah prasangka buruk muncul,” katanya.

 

 

Kritik dan Suudzon Perlu Dibedakan

Purnomo menegaskan bahwa masyarakat perlu membedakan antara kritik yang konstruktif dengan suudzon.

Kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi dan sosial karena dapat menjadi sarana perbaikan.

Namun kritik harus disampaikan berdasarkan fakta, data, dan dilakukan dengan cara yang santun.

Sebaliknya, suudzon muncul ketika seseorang menuduh, menghakimi, atau menyimpulkan sesuatu tanpa dasar yang jelas.

“Kritik itu diperlukan, tetapi harus berbasis fakta. Jangan sampai kritik berubah menjadi fitnah, ujaran kebencian, atau tuduhan tanpa bukti,” tegasnya.

 

 

Bijak Bermedia Sosial

Purnomo mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terpancing emosi ketika membaca suatu unggahan.

Menurutnya, sebelum berkomentar, setiap pengguna media sosial perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah komentar tersebut memberikan manfaat atau justru menambah masalah.

Ia juga mengingatkan bahwa jejak digital akan terus tersimpan dan dapat berdampak pada kehidupan seseorang di masa depan.

“Kalau semua komentar negatif ingin dilayani satu per satu, seseorang bisa lelah seumur hidup. Karena itu fokuslah pada hal-hal yang bermanfaat dan tetap jaga etika dalam bermedia sosial,” ujarnya.

 

 

Membangun Budaya Digital yang Sehat

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, masyarakat diharapkan mampu membangun budaya digital yang lebih sehat, santun, dan produktif.

Memberikan apresiasi kepada orang lain, memverifikasi informasi sebelum berkomentar, serta menghindari prasangka buruk merupakan langkah sederhana yang dapat menciptakan lingkungan media sosial yang lebih positif.

Sebab pada akhirnya, media sosial tidak hanya mencerminkan teknologi yang digunakan, tetapi juga mencerminkan karakter dan budaya masyarakat yang menggunakannya.

 

***

(Queensha Jepara, 4 Juni 2026)