Queensha.id – Jepara,
Misteri keberadaan Keraton Ratu Kalinyamat yang selama berabad-abad menjadi perdebatan para sejarawan perlahan mulai menemukan titik terang. Sebuah penemuan arkeologis mengejutkan terjadi di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, setelah warga menemukan batu ornamen kuno yang diduga kuat berkaitan dengan era Kerajaan Kalinyamat.
Temuan tersebut ditemukan secara tidak sengaja saat warga melakukan kerja bakti membersihkan area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Mbah Sidiq atau Raden Kusuma Abdul Jalil. Batu berornamen unik itu ditemukan terkubur di bawah akar rumpun bambu tua yang berada di kawasan yang dikenal masyarakat sebagai Langgar Bubrah.
Penemuan ini langsung menarik perhatian para pemerhati sejarah dan budaya karena memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari peninggalan lain yang pernah ditemukan di Jepara.
Ditemukan Saat Kerja Bakti di Kawasan Bersejarah
Menurut keterangan warga, batu tersebut ditemukan ketika cangkul yang digunakan untuk membersihkan area makam membentur benda keras yang tidak biasa. Setelah digali dan dibersihkan, benda tersebut ternyata merupakan batu andesit putih dengan pahatan relief kuno.
Batu tersebut memiliki ukuran:
- Panjang: 60 sentimeter
- Lebar: 36 sentimeter
- Tebal: 12,5 sentimeter
Untuk menjaga kondisi dan nilai historisnya, artefak tersebut kini diamankan di kediaman Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah Assalafy, Muhammad atau yang akrab disapa Gus Mad.
Relief Dua Sisi yang Menyimpan Misteri Besar
Keunikan utama batu ini terletak pada relief yang terpahat pada kedua sisinya. Hal ini dinilai sangat langka karena sebagian besar ornamen peninggalan masa Islam di Jepara umumnya hanya memiliki pahatan pada satu sisi.
Pendiri Yayasan Widya Gilang Gumilang Kriyan sekaligus pemerhati sejarah Jepara, Hisyam Maliki, menilai artefak tersebut kemungkinan berasal dari masa transisi antara Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, hingga era pemerintahan Ratu Kalinyamat pada abad ke-16.
“Ornamen dua sisi ini menampilkan penggambaran yang sangat berbeda. Prediksi saya, benda ini berasal dari masa peralihan antara Majapahit, Kesultanan Demak, hingga masa Ratu Kalinyamat berkuasa,” ujar Hisyam.
Sisi Pertama Menampilkan Seni Islam Khas Mantingan
Pada salah satu sisi, relief memperlihatkan ukiran flora berupa sulur-suluran yang halus dan motif taman air mancur pada bagian bawahnya.
Gaya seni tersebut sangat mirip dengan ornamen yang terdapat di kompleks Masjid dan Makam Mantingan, peninggalan Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat yang terkenal sebagai salah satu mahakarya seni Islam di Nusantara.
Motif flora dan taman ini mencerminkan corak seni Islam yang berkembang di Jepara pada abad ke-16, ketika unsur budaya lokal dan pengaruh Timur Tengah mulai berpadu dalam bentuk arsitektur dan seni pahat.
Sisi Kedua Menampilkan Sosok Kalabhairawa
Berbeda jauh dengan sisi pertama, bagian lainnya justru menampilkan nuansa spiritual dan mistisisme Hindu-Buddha yang sangat kuat.
Relief tersebut menggambarkan sosok Kalabhairawa, manifestasi Dewa Siwa yang dikenal dalam tradisi Hindu Tantra sebagai figur yang berwibawa sekaligus menakutkan. Sosok ini digambarkan mengenakan kalung yang tersusun dari deretan kepala tengkorak.
Menariknya lagi, Kalabhairawa dikelilingi oleh lima sosok apsara atau bidadari. Salah satu figur tampak sedang memainkan alat musik yang menyerupai gendang kecil.
Meski beberapa bagian relief mengalami kerusakan akibat faktor usia dan kondisi lingkungan, detail pahatan masih terlihat cukup jelas sehingga memudahkan identifikasi unsur-unsur artistiknya.
Diduga Menjadi Petunjuk Lokasi Keraton Kalinyamat
Selama ini keberadaan fisik Keraton Kalinyamat masih menjadi misteri besar dalam sejarah Jepara. Meski berbagai sumber sejarah, termasuk catatan Portugis yang dikaji oleh sejarawan Belanda H.J. de Graaf, menyebutkan bahwa Ratu Kalinyamat memiliki istana megah, lokasi pastinya belum pernah dipastikan secara ilmiah.
Kawasan Siti Inggil Kriyan sendiri sejak lama diyakini masyarakat sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Kalinyamat. Karena itu, penemuan batu relief dua sisi ini dianggap sebagai salah satu petunjuk penting yang dapat membantu mengungkap keberadaan keraton yang hilang tersebut.
Hisyam menjelaskan bahwa bentuk relief yang dipahat pada kedua sisi mengindikasikan batu tersebut kemungkinan merupakan bagian dari gerbang, dinding, atau struktur bangunan besar yang memiliki fungsi khusus.
“Yang membuatnya sangat menarik adalah sifatnya yang dua sisi. Ini berbeda dengan ornamen Mantingan yang umumnya hanya dipahat pada satu sisi. Kemungkinan batu ini merupakan bagian dari struktur bangunan yang lebih besar dan bagian lainnya masih terkubur di bawah tanah,” jelasnya.
Banyak Bata Merah Kuno Masih Ditemukan Warga
Selain artefak batu relief, warga sekitar lokasi juga kerap menemukan bongkahan bata merah berukuran besar yang diduga merupakan bagian dari struktur bangunan kuno.
Temuan-temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa kawasan Desa Kriyan menyimpan banyak peninggalan penting yang belum sepenuhnya terungkap.
Apalagi setelah Ratu Kalinyamat resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada November 2023, perhatian terhadap jejak sejarah Kerajaan Kalinyamat semakin meningkat.
Warga Berharap Ada Penelitian Serius
Melihat pentingnya temuan tersebut, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Jepara bersama instansi terkait dapat segera melakukan penelitian arkeologis secara komprehensif.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan nilai sejarah artefak sekaligus mengungkap kemungkinan keberadaan situs Keraton Kalinyamat yang selama ini masih menjadi teka-teki.
“Kami sangat berharap ada upaya nyata dari pemerintah untuk menyelamatkan, meneliti, dan mengeksplorasi kawasan ini secara serius sebelum bukti-bukti sejarah Kerajaan Kalinyamat hilang ditelan waktu,” ujar Gus Mad.
Penemuan batu relief dua sisi di Desa Kriyan kini menjadi harapan baru bagi terkuaknya salah satu misteri terbesar dalam sejarah Jepara. Jika penelitian lebih lanjut dilakukan, bukan tidak mungkin kawasan tersebut akan menjadi kunci utama untuk mengungkap keberadaan Keraton Ratu Kalinyamat yang selama ini hilang dalam catatan sejarah.
***
SJ.
Queensha Jepara (10 Juni 2026)

Tinggalkan Balasan