Queensha.id – Jakarta,
Kabar mengenai kemungkinan turunnya harga Pertamax menjadi perhatian masyarakat setelah pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa harga Pertamax dapat kembali turun apabila harga minyak dunia mengalami penurunan.
Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa mekanisme harga BBM non-subsidi mengikuti perkembangan harga minyak mentah di pasar internasional. Oleh karena itu, apabila harga minyak global mengalami penurunan, maka harga Pertamax dan jenis BBM non-subsidi lainnya juga berpotensi mengalami penyesuaian ke bawah.
“Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun,” ujar Dwi Anggia dalam konferensi pers di Jakarta.
Sebaliknya, apabila harga minyak dunia kembali melonjak akibat kondisi geopolitik atau faktor ekonomi global lainnya, maka harga BBM non-subsidi juga harus menyesuaikan sesuai harga keekonomian.
Kenaikan Pertamax Dipengaruhi Faktor Global
Menurut pemerintah, kenaikan harga Pertamax yang terjadi belakangan ini tidak hanya dialami Indonesia. Berbagai negara juga menghadapi tekanan serupa akibat naiknya harga energi dunia.
Fluktuasi harga minyak mentah global dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari konflik geopolitik, gangguan pasokan energi, hingga kebijakan produksi negara-negara eksportir minyak.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan energi termasuk Pertamina harus melakukan penyesuaian harga agar tetap sesuai dengan biaya produksi dan distribusi yang berlaku.
Harga Pertamax Naik Signifikan
Berdasarkan penyesuaian terbaru, harga Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara itu:
- Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
- Pertalite tetap Rp10.000 per liter.
- Biosolar subsidi tetap Rp6.800 per liter.
Kenaikan tersebut menimbulkan berbagai respons dari masyarakat, terutama pengguna kendaraan pribadi yang selama ini mengandalkan BBM non-subsidi.
Pertamina: Penyesuaian Harga Mengikuti Kondisi Pasar
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), , menjelaskan bahwa keputusan penyesuaian harga dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global serta pergerakan harga minyak internasional.
Menurutnya, perusahaan tetap berupaya menjaga keseimbangan antara harga keekonomian dan daya beli masyarakat.
“Kami mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia sekaligus memperhatikan kondisi masyarakat,” ujarnya, Rabu (17/6).
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
BBM Subsidi Tetap Dijaga Pemerintah
Di tengah kenaikan BBM non-subsidi, pemerintah memastikan bahwa harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan.
Kebijakan ini disebut sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah dan kelompok rentan yang sangat bergantung pada BBM bersubsidi untuk aktivitas sehari-hari.
Menteri ESDM melalui jajarannya menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga Pertalite dan Biosolar meskipun kondisi geopolitik global sedang tidak menentu.
Dampak Harga BBM terhadap Perekonomian
Kenaikan maupun penurunan harga BBM memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas ekonomi nasional. Ketika harga BBM meningkat, biaya transportasi dan distribusi barang cenderung ikut naik sehingga berpotensi mendorong inflasi.
Sebaliknya, apabila harga minyak dunia turun dan harga Pertamax ikut menurun, masyarakat dapat merasakan penghematan biaya transportasi yang pada akhirnya membantu meningkatkan daya beli.
Para pelaku usaha juga berharap harga energi yang lebih stabil dapat membantu menjaga biaya operasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Pandangan Pengamat: Transparansi Harga Penting Dijaga
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai masyarakat perlu memahami bahwa harga BBM non-subsidi memang mengikuti mekanisme pasar dan harga minyak dunia.
“Yang terpenting adalah transparansi pemerintah dan perusahaan energi dalam menjelaskan dasar penetapan harga. Masyarakat akan lebih mudah menerima kebijakan jika memahami faktor-faktor yang memengaruhi kenaikan maupun penurunan harga BBM,” ujarnya.
Menurutnya, kepastian bahwa harga BBM non-subsidi dapat turun ketika harga minyak dunia merosot menjadi kabar yang cukup positif bagi masyarakat.
“Jangan hanya ketika harga minyak dunia naik lalu BBM naik. Ketika harga minyak turun, masyarakat juga berharap ada penyesuaian yang cepat sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara langsung,” tambahnya.
Harga Pertamax berpotensi turun apabila harga minyak dunia mengalami penurunan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM menegaskan bahwa mekanisme harga BBM non-subsidi mengikuti perkembangan harga energi global. Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar dipastikan tetap dijaga demi melindungi masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
***
CNN.

Tinggalkan Balasan