Queensha.id – Jepara,
Pemerintah Kabupaten Jepara terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat identitas daerah sebagai The World Carving Center atau Pusat Ukir Dunia. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah peluncuran Kartu Mebel Jepara, sebuah program inovatif yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan para buruh mebel dan pengukir tradisional.
Peluncuran program tersebut dilakukan dalam rangkaian Pelatihan Inovasi Produk Ornamen Ukir dan Pelatihan Pemanfaatan Limbah Kayu yang berlangsung pada 22–25 Juni 2026 di kawasan Pantai Kartini, Jepara. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara dengan Yayasan Pelestari Ukir (PELUK) Jepara.
Seni Ukir Jepara Harus Tetap Berkembang
Bupati Jepara, atau yang akrab disapa Mas Wiwit, menegaskan bahwa seni ukir Jepara merupakan warisan budaya bernilai tinggi yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar modern.
Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar produk ukiran Jepara tetap diminati tanpa kehilangan karakter khas yang telah menjadi identitas daerah selama ratusan tahun.
“Pelatihan inovasi produk dengan ornamen ukir dapat mendorong lahirnya desain-desain baru tanpa meninggalkan identitas khas Jepara,” ujar Mas Wiwit.
Industri Furnitur Jadi Tulang Punggung Ekonomi Jepara
Peran sektor furnitur dan pengolahan kayu masih sangat dominan dalam perekonomian Kabupaten Jepara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sektor industri memberikan kontribusi sebesar 33,61 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jepara.
Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Jepara juga menunjukkan tren positif dengan capaian 5,41 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 4,26 persen.
Saat ini terdapat 892 perusahaan furnitur di Jepara dengan total investasi mencapai Rp1,17 triliun. Industri tersebut mampu menyerap 8.259 tenaga kerja, menjadikannya salah satu sektor strategis dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Sementara itu, kinerja ekspor furnitur kayu Jepara juga terus menunjukkan hasil membanggakan. Nilai ekspor mencapai 197 juta dolar AS atau sekitar Rp3,29 triliun, dengan jangkauan pemasaran hingga 114 negara di berbagai belahan dunia.
Lima Program Unggulan Penguatan Industri Ukir dan Furnitur
Untuk menjaga daya saing industri ukir dan furnitur di tingkat global, Pemerintah Kabupaten Jepara telah menyiapkan lima program unggulan, yaitu:
- Festival Ukir Internasional
- Pengembangan Museum Ukir Nusantara
- Pasar Mebel Jepara
- Program UMKM Naik Kelas
- Kartu Mebel Jepara
Kelima program tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri kreatif berbasis ukiran dan furnitur yang selama ini menjadi ikon Jepara.
Kartu Mebel Jepara Jadi Basis Data dan Perlindungan Pekerja
Program Kartu Mebel Jepara tidak hanya berfungsi sebagai kartu identitas pekerja, tetapi juga menjadi basis data terintegrasi bagi para buruh mebel dan pengukir.
Hingga Juni 2026, sebanyak 850 kartu telah diserahkan kepada pekerja dari target awal 1.500 kartu.
Data yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk mendukung berbagai program pemerintah, mulai dari pembinaan keterampilan, peningkatan kompetensi tenaga kerja, akses jaminan sosial, hingga dukungan pendidikan dan kesehatan bagi keluarga pekerja mebel.
“Mari kita jaga agar Jepara tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil mebel, tetapi menjadi pusat industri furnitur dan ukir berkelas dunia yang mampu memberikan kesejahteraan nyata bagi masyarakat,” tegas Mas Wiwit.
GEKRAFS Jepara Siap Dukung Regenerasi Pengukir Muda
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Kabupaten Jepara.
Ketua GEKRAFS Jepara, , menyampaikan kesiapan organisasinya untuk berkolaborasi dalam berbagai program pengembangan industri kreatif. Bentuk dukungan tersebut meliputi promosi pariwisata, digitalisasi destinasi, penguatan ekonomi kreatif, hingga regenerasi pengukir muda.
Menurutnya, keberlangsungan industri ukir Jepara sangat bergantung pada keberhasilan mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap seni ukir kepada generasi muda.
“Kami siap mendampingi dan mengawal program ini agar kesejahteraan pekerja mebel meningkat. Tugas kita bersama adalah mengenalkan dan melatih generasi muda untuk mencintai seni mengukir,” ungkap Abdul Chaq.
Optimisme Jepara Menjadi Pusat Furnitur dan Ukir Berkelas Dunia
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku industri furnitur, komunitas kreatif, serta para pengukir tradisional, Jepara optimistis mampu mempertahankan reputasinya sebagai pusat ukir dunia.
Melalui berbagai program inovatif, khususnya Kartu Mebel Jepara, pemerintah berharap kesejahteraan para pekerja mebel dan pengukir dapat terus meningkat seiring berkembangnya industri furnitur Jepara di pasar nasional maupun internasional.
Ke depan, Jepara tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil mebel berkualitas tinggi, tetapi juga sebagai pusat industri furnitur dan seni ukir berkelas dunia yang memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakatnya.
***
SJ.

Tinggalkan Balasan