Queensha.id – Jepara,

 

Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara mengalami kecelakaan tunggal di perairan Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Senin (22/6/2026). Insiden tersebut menjadi perhatian publik setelah video proses evakuasinya viral di media sosial.

Video yang diunggah akun Facebook Drone Explore Jepara memperlihatkan posisi kapal tongkang yang miring cukup tajam sehingga muatan batu bara di dalamnya nyaris tumpah ke laut.

Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan narasi:

“Evakuasi Kapal Tongkang di Perairan Jepara. Video diambil oleh Drone Jepara. Tgl 22 Juni 2026.”

Tak lama setelah video beredar, berbagai komentar dari netizen Jepara dan sekitarnya bermunculan. Banyak warga yang penasaran dengan penyebab kapal tongkang tersebut miring, sementara lainnya mengapresiasi proses evakuasi yang dilakukan secara cepat.

 

Batu Bara Dipindahkan ke Tongkang Lain

Berdasarkan rekaman video yang beredar, terlihat sebuah kapal tongkang lain dikerahkan ke lokasi untuk membantu proses evakuasi.

Menggunakan alat berat berupa katrol atau crane, muatan batu bara secara bertahap dipindahkan dari tongkang yang miring ke tongkang lain yang masih kosong.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi beban kapal sehingga keseimbangan tongkang dapat dipulihkan dan risiko muatan jatuh ke laut dapat diminimalkan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi resmi mengenai penyebab pasti kapal tongkang tersebut mengalami kemiringan maupun nilai kerugian yang ditimbulkan.

 

Jepara Memiliki Salah Satu PLTU Terbesar di Indonesia

Peristiwa ini menarik perhatian masyarakat karena Kabupaten Jepara dikenal sebagai daerah yang memiliki salah satu pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Indonesia, yakni PLTU Tanjung Jati B yang berada di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang.

PLTU tersebut menjadi salah satu tulang punggung pasokan listrik untuk sistem Jawa, Madura, dan Bali dengan kapasitas pembangkit mencapai ribuan megawatt.

Sebagai bahan bakar utama PLTU, batu bara rutin didatangkan melalui jalur laut menggunakan kapal tongkang dalam jumlah besar sebelum dibongkar dan digunakan untuk operasional pembangkit.

 

Edukasi: Mengapa Kapal Tongkang Bisa Miring?

Dalam dunia pelayaran, kapal tongkang dapat mengalami kemiringan atau listing karena beberapa faktor.

Di antaranya:

 

1. Distribusi Muatan Tidak Merata

Jika muatan lebih banyak terkumpul di satu sisi kapal, pusat gravitasi akan bergeser sehingga kapal menjadi miring.

 

2. Gelombang dan Cuaca Buruk

Angin kencang, gelombang tinggi, maupun arus laut yang kuat dapat memengaruhi stabilitas kapal.

 

3. Pergeseran Muatan

Muatan yang tidak tersusun dengan baik dapat bergeser saat kapal bergerak atau terkena ombak besar.

 

4. Kebocoran Lambung

Masuknya air ke dalam kompartemen kapal dapat mengganggu keseimbangan dan menyebabkan kapal condong ke satu sisi.

 

5. Kesalahan Operasional

Kesalahan dalam proses pemuatan maupun pembongkaran barang juga dapat memicu kemiringan kapal.

 

Mengenal Batu Bara, Sumber Energi Utama PLTU

Batu bara merupakan batuan sedimen berwarna hitam atau cokelat tua yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengalami proses geologi selama jutaan tahun.

Karena memiliki kandungan karbon tinggi, batu bara menjadi salah satu sumber energi utama yang digunakan untuk menghasilkan listrik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Jenis batu bara yang umum digunakan antara lain:

  • Lignit
  • Sub-bituminus
  • Bituminus
  • Antrasit

Semakin tinggi kandungan karbonnya, semakin besar pula energi panas yang dihasilkan saat dibakar.

Keselamatan Transportasi Laut Harus Menjadi Prioritas

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai insiden kapal tongkang miring tersebut menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap aktivitas transportasi laut, terutama yang berkaitan dengan distribusi energi nasional.

Menurutnya, jalur laut memiliki peran strategis dalam mendukung pasokan bahan bakar pembangkit listrik sehingga aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama.

“Kapal pengangkut batu bara merupakan bagian penting dari rantai pasokan energi nasional. Karena itu prosedur keselamatan, stabilitas kapal, hingga pengawasan muatan harus benar-benar diperhatikan agar tidak menimbulkan risiko bagi awak kapal maupun lingkungan laut,” ujar Purnomo Wardoyo, Rabu (24/6/2026).

Ia juga berharap kejadian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan standar keselamatan pelayaran dan pengangkutan logistik di wilayah pesisir Jepara.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa kapal tongkang miring di perairan Mororejo ini menjadi perhatian masyarakat karena memperlihatkan betapa pentingnya pengelolaan muatan dan keselamatan pelayaran dalam mendukung kebutuhan energi nasional.

 

***

DEJ.