Queensha.id – Edukasi Sosial,
Kisah pahit tentang pertemanan kembali mencuat, kali ini datang dari pengalaman seorang pria bernama Sinin (33), yang harus menelan kenyataan getir setelah bertahun-tahun hidup “terlalu baik” kepada teman-temannya.
Selama bertahun-tahun, Sinin dikenal sebagai sosok yang ringan tangan. Dari masa sekolah hingga dewasa, ia tak pernah ragu membantu siapa pun yang datang dengan cerita kesulitan. Mulai dari meminjamkan uang, mentraktir makan, hingga membantu kebutuhan sehari-hari, semua dilakukan atas nama pertemanan.
“Kalau ada teman butuh, berapapun saya kasih. Saya pikir, suatu saat kalau saya kesusahan, mereka juga akan ada,” ungkapnya.
Namun, keyakinan itu runtuh saat pandemi melanda. Kehilangan pekerjaan, kondisi ayah yang sakit, serta kebutuhan rumah tangga yang terus mendesak membuat Sinin berada di titik terendah dalam hidupnya.
Dalam kondisi terdesak, ia mencoba menghubungi satu per satu teman yang dulu pernah ia bantu. Harapannya sederhana yaitu mendapat sedikit bantuan atau setidaknya peluang pekerjaan. Namun yang ia terima justru sebaliknya yakni penolakan, alasan klasik, hingga sikap acuh tak acuh.
“Ada yang bilang lagi nggak punya, ada yang nggak balas sama sekali. Padahal dulu saya nggak pernah nolak mereka,” katanya lirih.
Lebih menyakitkan lagi, sebagian dari mereka bahkan masih memiliki utang yang belum dikembalikan. Saat Sinin mencoba menyinggung hal itu, respons yang diterima tetap dingin, bahkan cenderung menghindar.
Fenomena ini menunjukkan realitas pahit dalam relasi sosial yaitu tidak semua yang disebut “teman” benar-benar hadir saat dibutuhkan. Banyak hubungan yang ternyata bersifat transaksional yaitu datang saat ada kepentingan, lalu menghilang saat tak lagi mendapat keuntungan.
Ironisnya, satu-satunya orang yang justru membantu Sinin adalah sosok yang selama ini jarang meminta apa pun darinya. Dari relasi sederhana itu, Sinin justru mendapatkan pekerjaan baru dan kesempatan bangkit.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik dalam cara pandangnya terhadap pertemanan. Ia kini memilih untuk lebih selektif, tidak lagi mengukur hubungan dari jumlah, melainkan dari ketulusan.
“Sekarang saya lebih pilih teman sedikit, tapi benar-benar ada. Daripada banyak, tapi hilang saat kita jatuh,” tegasnya.
Kisah Sinin menjadi pengingat bahwa kebaikan tanpa batas juga perlu diimbangi dengan kebijaksanaan. Dalam kehidupan sosial yang kompleks, tidak semua orang yang dekat layak diperjuangkan tanpa syarat.
Di tengah budaya solidaritas yang sering digaungkan, realitas justru menunjukkan yaitu ketulusan adalah hal langka, dan tidak semua pertemanan layak dipertahankan.
***
(18 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan