Queensha.id – Edukasi Sosial,
Kesuksesan seseorang tidak selalu disambut dengan rasa bahagia oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam berbagai hubungan sosial, baik pertemanan, lingkungan kerja, maupun keluarga, rasa iri dan tidak aman terkadang muncul tanpa disadari.
Menurut sejumlah kajian psikologi, perasaan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi. Meski tidak selalu diungkapkan secara langsung, ada beberapa bahasa tubuh dan sikap yang dinilai dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang sedang merasa iri atau menganggap orang lain sebagai pesaing.
Penting dipahami, tanda-tanda berikut bukan berarti menjadi bukti pasti bahwa seseorang memiliki niat buruk. Sikap tersebut dapat dipengaruhi banyak faktor sehingga perlu disikapi secara bijaksana dan tidak dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang.
1. Terlalu Sering Memperhatikan atau Menatap Anda
Salah satu tanda yang sering dibahas dalam psikologi adalah intensitas tatapan mata.
Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan European Journal of Social Psychology pada 2018, individu dengan karakter lebih dominan dan kompetitif cenderung melakukan kontak mata lebih intens saat berinteraksi.
Namun, kontak mata yang sering terjadi tidak selalu berarti seseorang iri. Oleh karena itu, penting melihat konteks hubungan, situasi, dan perilaku lainnya sebelum menarik kesimpulan.
2. Muncul Mikro-ekspresi Negatif
Psikolog dan antropolog Dr. Paul Ekman memperkenalkan konsep mikro-ekspresi, yakni ekspresi wajah yang muncul sangat singkat secara spontan ketika seseorang merasakan emosi tertentu.
Ekman mengidentifikasi tujuh emosi dasar yang dapat muncul melalui mikro-ekspresi, yaitu bahagia, sedih, marah, takut, jijik, terkejut, dan penghinaan.
Dalam hubungan sosial, ekspresi seperti rasa jijik, penghinaan, atau kemarahan yang muncul sesaat ketika melihat keberhasilan orang lain terkadang dikaitkan dengan adanya rasa tidak nyaman atau kecemburuan.
Meski demikian, membaca ekspresi wajah seseorang bukanlah metode yang dapat memastikan isi hati maupun niat seseorang secara pasti.
3. Sering Meniru Gaya Hidup atau Keputusan Anda
Meniru seseorang sering dianggap sebagai bentuk apresiasi. Akan tetapi, psikologi juga mengenal kondisi ketika seseorang terus-menerus meniru pilihan hidup, cara berpakaian, pendapat, hingga keputusan penting karena terdorong oleh rasa ingin menyamai atau mengalahkan orang lain.
Penulis buku The Business of Friendship, Shasta Nelson, menjelaskan bahwa rasa iri sering muncul ketika seseorang merasa orang lain tidak pantas memiliki sesuatu yang belum bisa ia capai.
Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, stres, hingga merusak kualitas hubungan pertemanan.
Cara Menyikapi Orang yang Diduga Iri
Psikolog menilai tidak semua persaingan memiliki dampak negatif. Dalam beberapa kondisi, kompetisi justru dapat menjadi motivasi untuk berkembang dan mencapai hasil yang lebih baik.
Namun, apabila hubungan mulai dipenuhi rasa dengki, saling menjatuhkan, atau persaingan yang tidak sehat, maka komunikasi yang baik menjadi langkah penting untuk menjaga hubungan tetap harmonis.
Selain itu, seseorang juga disarankan untuk tidak mudah berprasangka hanya berdasarkan satu atau dua perilaku. Mengenali tanda-tanda psikologis sebaiknya digunakan sebagai bahan refleksi, bukan untuk memberi cap negatif kepada orang lain.
Bangun Lingkungan yang Saling Mendukung
Para ahli menyarankan agar setiap orang membangun lingkungan pertemanan yang sehat, saling menghargai pencapaian, dan memberikan dukungan satu sama lain.
Hubungan yang dipenuhi rasa saling percaya dan apresiasi akan membantu menciptakan suasana yang lebih positif dibandingkan hubungan yang dipenuhi persaingan tersembunyi.
Pada akhirnya, keberhasilan seseorang seharusnya menjadi inspirasi, bukan alasan untuk saling menjatuhkan. Dengan memahami berbagai sudut pandang psikologi secara utuh, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi dinamika hubungan sosial tanpa terburu-buru menyimpulkan niat orang lain hanya dari perilaku yang tampak.
***
Sumber: Hai bunda.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan