Queensha.id – Film & Sinetron,

 

Sinetron Terikat Janji episode 89 yang tayang pada Selasa (30 Juni 2026) malam menghadirkan adegan penuh aksi, ketegangan, sekaligus menguras emosi penonton.

Sena Airlangga Abraham (Arya Saloka) akhirnya berhasil menemukan lokasi persembunyian Julian (Yogi Tama) dan Danang (Ikbal Fauzi) yang menculik Davina (Asha Assuncao).

Penculikan tersebut diduga merupakan aksi balas dendam setelah Sena menggagalkan transaksi penjualan patung Ganesha senilai 7 juta dolar Amerika Serikat. Di sisi lain, Julian juga menyimpan dendam lama kepada Sena karena pernah ditangkap dalam kasus penganiayaan terhadap kekasihnya tiga tahun sebelumnya.

 

Sena Habisi Lima Anak Buah Julian

Meski kondisi tangan kanannya masih terasa nyeri akibat luka sebelumnya, Sena tetap menerobos markas para pelaku.

Dengan kemampuan bertarungnya, Sena berhasil melumpuhkan lima anak buah Julian. Satu per satu berhasil dikalahkan hingga diikat agar tidak bisa lagi memberikan perlawanan.

Pertarungan kemudian berlanjut saat Sena berhadapan langsung dengan Julian dan Danang.

Dalam duel sengit tersebut, Sena melayangkan pukulan keras yang membuat Julian terjatuh hingga tewas. Setelah itu, perhatian Sena langsung tertuju kepada Davina yang berada dalam kondisi sangat berbahaya.

 

Davina Digantung dengan Kain Merah

Situasi semakin mencekam ketika Davina diketahui diikat menggunakan kain merah panjang yang disangkutkan pada pagar lantai atas bangunan kosong.

Rencana Danang dan Julian sangat kejam. Kain tersebut sengaja dipasang agar mudah disobek menggunakan pisau sehingga Davina dapat terjatuh dari ketinggian.

Sena berusaha menarik tubuh Davina ke atas menggunakan tangan kanannya. Namun pada saat bersamaan, Danang datang menyerang dari belakang.

 

Identitas Sena Sebagai Polisi Akhirnya Terbongkar

Adegan paling mengejutkan terjadi ketika Danang berusaha melepaskan penutup mulut dan hidung yang selama ini dikenakan Sena.

Karena kedua tangannya sibuk menyelamatkan Davina sekaligus menahan serangan Danang, Sena akhirnya gagal mempertahankan penyamarannya.

Penutup wajahnya terlepas.

Davina yang melihat wajah Sena langsung terkejut. Seluruh kecurigaan yang selama ini ia pendam akhirnya terjawab.

Dalam sekejap, Davina teringat berbagai kejadian sebelumnya yang membuatnya curiga bahwa Sena bukanlah pria biasa, melainkan seorang polisi yang sedang menyamar.

Dengan mata berkaca-kaca, Davina berkata,

“Sena, kamu polisi? Kenapa bohongi saya?”

Sena yang tetap fokus menyelamatkan Davina hanya menjawab singkat,

“Sudahlah, ikuti instruksi saya.”

Sena kemudian menambahkan,

“Nanti saya jelaskan.”

Danang Dilumpuhkan Polisi

Ketegangan belum berakhir. Dua anggota polisi tiba-tiba datang memberikan bantuan kepada Sena.

Danang yang masih mencoba melawan langsung ditembak pada bagian kaki hingga terjatuh. Sena kemudian menendangnya untuk melumpuhkan pelaku agar tidak kembali melakukan kejahatan.

Di saat bersamaan, waktu terus berjalan karena bom yang dipasang Julian dan Danang di dalam gedung kosong tersebut siap meledak.

 

Akankah Davina Memaafkan Sena?

Terbongkarnya identitas Sena sebagai polisi menjadi titik balik hubungan dirinya dengan Davina.

Di satu sisi, Sena berbohong demi menjalankan tugas penyamaran dan mengungkap jaringan kejahatan internasional. Namun di sisi lain, kebohongan itu membuat Davina merasa dikhianati oleh orang yang selama ini ia percaya.

Besar kemungkinan pada episode berikutnya Davina akan diliputi rasa kecewa dan memilih menjaga jarak dari Sena. Meski demikian, situasi darurat yang mereka alami bisa membuat Davina memahami bahwa penyamaran Sena merupakan bagian dari tugas negara, bukan untuk menyakitinya.

Sena juga diperkirakan akan menjelaskan bahwa seluruh kebohongannya dilakukan demi menjaga keselamatan Davina sekaligus membongkar sindikat penyelundupan patung Ganesha bernilai jutaan dolar.

Penjelasan tersebut berpotensi menjadi awal terbukanya hubungan yang lebih jujur antara Sena dan Davina, meski jalan menuju saling percaya kembali dipastikan tidak akan mudah.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.