Queensha.id – Jepara, (Wisata Religi)

 

Perjalanan menelusuri jejak para wali, ulama, habib, dan cikal bakal desa di Kabupaten Jepara akhirnya sampai pada bagian terakhir, yakni wilayah Kecamatan Tahunan dan Kecamatan Welahan.

 

Kedua kecamatan ini menyimpan sejumlah makam tokoh besar yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam maupun perjalanan pemerintahan Jepara, termasuk Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat, dua tokoh besar yang namanya dikenal hingga tingkat nasional.

Kecamatan Tahunan

Desa Krapyak

Tokoh:

  • Mbah Hamdullah (Mbah Kamdowo)

Beliau dipercaya sebagai ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam di wilayah Krapyak.

Desa Mantingan

Desa Mantingan merupakan salah satu kawasan paling bersejarah di Kabupaten Jepara.

Tokoh yang dimakamkan:

  • Sultan Hadlirin
  • Ratu Kalinyamat
  • Mbah Juminah
  • Mbah Mataram
  • Ki Ageng Semarang
  • Syeikh Abdul Jalil
  • Mbah Gilang

Sultan Hadlirin

Sultan Hadlirin atau Pangeran Hadiri dikenal sebagai suami Ratu Kalinyamat. Menurut berbagai sumber sejarah, beliau berasal dari Tiongkok dan kemudian memeluk Islam sebelum menjadi tokoh penting di Jepara.

Sultan Hadlirin berperan besar dalam pembangunan Masjid Mantingan, salah satu masjid tertua di Jawa yang terkenal dengan relief batu bergaya perpaduan Islam, Jawa, Hindu, dan Tiongkok.

Makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat di kompleks Masjid Mantingan hingga kini menjadi salah satu tujuan wisata religi paling ramai di Kabupaten Jepara.

 

Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat merupakan penguasa Jepara pada abad ke-16 yang dikenal sebagai pemimpin perempuan pemberani.

Dalam sejarah Nusantara, beliau tercatat pernah memimpin armada laut Jepara untuk menyerang Portugis di Malaka.

Selain dikenal sebagai tokoh politik dan militer, Ratu Kalinyamat juga berjasa dalam perkembangan Islam di Jepara bersama Sultan Hadlirin.

Desa Demangan

Tokoh:

  • Mbah Demang Dahlan Abu Syairi
  • Sayyid Abdullah bin Malik Al-Habsyi

Desa Mangunan

Tokoh:

  • Mbah Mangunsari

Desa Petekeyan

Tokoh:

  • Mbah Abdullah

Desa Semat

Tokoh:

  • Mbah Subakir (Yik Kir)
  • Mbah Sirah Mosari
  • Mbah Suminah
  • Mbah Ali Kubil
  • Mbah Dadap
  • Habib Abu Qasim
  • Mbah Restu
  • Mbah Alifian Sungkur
  • Nyai Gina Sarawi Irjani
  • Mbah Damar Sasmito
  • Habib Abdi Awaludin
  • Mbah Fatmini
  • Mbah Sumputan (Mauquf)

Semat menjadi salah satu desa yang memiliki jumlah makam ulama cukup banyak di Jepara.

Desa Langon

Tokoh:

  • Mbah Nggelang

Desa Sukodono

Tokoh:

  • Mbah Sentono
  • Mbah Hamdullah (Kamdowo)
  • Mbah Tunggul Wulung

Desa Tegalsambi

Tokoh:

  • Mbah Jogo Laut
  • Mbah Jasad
  • Mbah Tegal

Nama Mbah Tegal erat kaitannya dengan asal-usul Tradisi Obor Tegalsambi, salah satu tradisi budaya yang masih dilestarikan masyarakat hingga sekarang.

Desa Telukawur

Tokoh:

  • Ratu Kuning

Desa Ngabul

Tokoh:

  • Datuk Jokosari

Menurut cerita masyarakat, Datuk Jokosari berasal dari Cirebon dan masih memiliki hubungan keturunan dengan tokoh di Bandengan.

Desa Kecapi

Tokoh:

  • Ki Ageng Sarkam (Ageng Niti Surohadiprojo)
  • Mbah Sidiq Kiman
  • Mbah Kathi

Desa Tahunan

Tokoh:

  • Muhammad Syeikh At-Thoroghi (Treges)
  • Mbah Kojot
  • Mbah Demang Dahlan Abu Syairi
  • Sayyid Abdullah bin Malik Al-Habsyi

Kecamatan Welahan

Wilayah Welahan juga memiliki sejumlah tokoh penting yang dihormati masyarakat.

Desa Brantaksekarjati

Tokoh:

  • Mbah Suro
  • Mbah Sentono Ratu
  • Mbah Geseng

Desa Sidi Gede

Tokoh:

  • Joyokusumo
  • Mbah Subuh
  • Mbah Nerang
  • Mbah Sidiq

Desa Teluk Wetan

Tokoh:

  • Mbah Pondok Jogoboyo
  • Mbah Lurah
  • Mbah Roro Kemuning

Mbah Pondok Jogoboyo dikenal masyarakat melalui tradisi haul yang masih rutin dilaksanakan setiap bulan Suro.

Desa Welahan

Tokoh:

  • Mbah Jenggot
  • Mbah Kamandoko
  • Mbah Buyut Sukun

Ketiga tokoh tersebut dipercaya sebagai sesepuh yang membuka wilayah Welahan.

Warisan Spiritual dan Sejarah Jepara

Pendataan yang dilakukan PCNU Jepara bersama Tim Sarkub dan JQH NU Jepara pada 2016 mencatat sedikitnya 131 nama wali, ulama, habib, dan cikal bakal desa yang tersebar di seluruh Kabupaten Jepara. Hingga kini, jumlah tersebut diyakini masih dapat bertambah seiring penelitian sejarah dan penelusuran manuskrip lokal.

Keberadaan makam-makam tersebut bukan hanya menjadi destinasi wisata religi, tetapi juga merupakan warisan sejarah yang mencerminkan perjalanan dakwah Islam di Jepara selama berabad-abad.

Meski demikian, penting dipahami bahwa tidak semua kisah para tokoh memiliki bukti sejarah tertulis. Sebagian berasal dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat. Oleh sebab itu, kajian akademik dan penelitian sejarah tetap diperlukan agar dapat membedakan antara fakta sejarah, tradisi lokal, dan legenda.

Melalui pelestarian situs makam, tradisi haul, ziarah, serta pengkajian sejarah yang berkelanjutan, generasi muda diharapkan dapat mengenal lebih dekat perjuangan para ulama, habib, dan pendiri desa yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan Islam, budaya, dan peradaban di Kabupaten Jepara.

 

Jadi, itulah deretan wisata religi untuk wilayah kabupaten Jepara yang merupakan kegiatan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai keagamaan dan sejarah, seperti makam para wali, ulama, masjid bersejarah, pesantren, atau situs penyebaran agama. Tujuannya bukan untuk menyembah tempat tersebut, melainkan untuk beribadah, berdoa kepada Allah SWT, mengenang jasa para tokoh agama, serta mengambil pelajaran dari perjuangan mereka.

 

Manfaat Wisata Religi

Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Mengenang jasa para ulama dan wali yang berperan dalam menyebarkan agama Islam.

Menambah wawasan sejarah tentang perkembangan Islam dan budaya di suatu daerah.

Menjadi sarana muhasabah (introspeksi diri) dengan mengingat kematian dan kehidupan akhirat.

Mempererat silaturahmi antarumat Islam melalui kegiatan ziarah dan pengajian.

Mendorong pelestarian situs sejarah dan budaya, sehingga warisan para pendahulu tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Mendukung perekonomian masyarakat, terutama di kawasan wisata religi melalui sektor UMKM, kuliner, dan jasa.
Dalam ajaran Islam, ziarah kubur dianjurkan sebagai pengingat kematian dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)

Karena itu, wisata religi hendaknya dilakukan dengan niat yang benar, menjaga adab, berdoa hanya kepada Allah SWT, serta menjadikan perjalanan tersebut sebagai sarana memperkuat iman dan meneladani akhlak para ulama dan orang-orang saleh.

 

Pengamat Sosial dan Sejarah Jepara

Menurutnya, Purnomo Wardoyo menjelaskan bahwa keberadaan makam para wali, ulama, dan tokoh cikal bakal desa di Kabupaten Jepara merupakan warisan berharga yang perlu dijaga bersama. Selain memperkuat nilai-nilai keagamaan, wisata religi juga dapat meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap sejarah daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata dan UMKM.

“Wisata religi bukan sekadar berziarah, tetapi juga menjadi media untuk mengenal perjuangan para ulama dalam menyebarkan Islam, menumbuhkan rasa syukur, serta menjaga warisan sejarah agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda,” ujar Purnomo Wardoyo, Rabu (1/7/2026).

 

 

TAMAT

 

***

Sumber: Berbagai sumber.

Penulis: Vico Rahman.