Queensha.id – Jepara,

 

Di saat banyak program sosial berhenti pada seremoni dan pencitraan sesaat, Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Jepara justru menunjukkan wajah lain dari kepedulian. Di desa ini, santunan anak yatim bukan agenda musiman, melainkan tradisi yang terus dijaga setiap Ramadan.

 

Pada Minggu (15/03/2026), Kepala Desa Mindahan, Agus Heri Purwanto, kembali menggelar santunan bagi 53 anak yatim yang dirangkai dengan buka puasa bersama di kediamannya. Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB itu berlangsung sederhana, namun penuh makna.

 

Tidak ada panggung megah, tidak pula kemasan berlebihan. Suasana yang tercipta justru hangat dan akrab. Anak-anak duduk bersama tanpa sekat, merasakan kehadiran yang lebih menyerupai keluarga daripada kegiatan formal pemerintahan.

 

Agus Heri Purwanto menegaskan, santunan ini bukan kegiatan baru. Sejak awal menjabat, ia menjadikannya sebagai agenda rutin tahunan yang terus dipertahankan.

 

“Ini sudah menjadi kegiatan tahunan selama saya menjabat. Kami ingin anak-anak yatim di desa ini tetap merasakan perhatian, terutama di bulan Ramadan,” ujarnya, Rabu (18/3).

 

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pencitraan. Di tengah tren program sosial yang kerap muncul hanya pada momen tertentu, konsistensi justru menjadi nilai utama yang ditunjukkan Desa Mindahan.

 

Kegiatan ini juga dihadiri perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Kehadiran lintas unsur ini menegaskan bahwa kepedulian sosial bukan tanggung jawab individu semata, melainkan gerakan bersama di tingkat desa.

 

Bagi 53 anak yatim yang hadir, santunan yang diterima mungkin belum mampu mengubah seluruh kondisi hidup mereka. Namun, perhatian yang diberikan menghadirkan pesan kuat: mereka tidak sendiri dan tidak dilupakan.

 

Ramadan yang identik dengan empati dan berbagi di Desa Mindahan tidak berhenti sebagai simbol. Nilai-nilai itu diterjemahkan dalam tindakan nyata yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan. Di situlah letak kekuatannya yang bukan pada besarnya bantuan, tetapi pada ketulusan yang terus dijaga.

 

Saat azan magrib berkumandang, suasana sejenak hening. Doa-doa terucap, dan senyum anak-anak itu menjadi potret sederhana tentang arti kehadiran seorang pemimpin di tengah masyarakatnya.

 

Di tengah berbagai tantangan sosial, apa yang dilakukan Desa Mindahan menjadi pengingat penting: kepedulian tidak selalu lahir dari program besar, melainkan dari komitmen kecil yang dirawat tanpa henti.

 

***

Wartawan: Wakhid Obeng.
(15/03/2026)