Queensha.id – Purbalingga,
Di tengah hiruk pikuk arus mudik yang identik dengan kendaraan dan kemacetan, kisah Edi Rasidi (50) justru hadir sebagai potret keteguhan yang mengiris nurani. Pedagang siomay ini memilih berjalan kaki sejauh kurang lebih 130 kilometer dari Cilacap menuju kampung halamannya di Pemalang, sambil mendorong gerobak dagangannya.
Perjalanan yang ia mulai sejak Senin (16/3/2026) pagi itu bukan sekadar mudik biasa. Di balik langkah-langkahnya yang perlahan namun pasti, tersimpan nazar, harapan hidup, dan kerinduan mendalam kepada keluarga.
Edi menargetkan tiba di Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Pemalang, pada Jumat malam (20/3/2026).
Artinya, selama empat hari empat malam, ia harus menaklukkan jalanan panjang, tanjakan ekstrem, dan keterbatasan fisik dan semua hanya dengan sepasang sandal dan uang saku Rp40 ribu.

Gerobak siomay yang ia dorong bukan sekadar beban, melainkan simbol perjuangan hidupnya. Setelah 20 tahun berdagang di Pemalang dan sempat mencoba peruntungan di Cilacap selama enam bulan terakhir, Edi memutuskan pulang. Bukan karena menyerah, tetapi karena ingin memulai kembali dari kampung halaman.
“Gerobak ini mau dibawa pulang, buat jualan di kampung,” ujarnya sederhana.
Namun, alasan terkuat dari perjalanan ini justru berakar dari sebuah janji. Dua tahun lalu, Edi mengalami kecelakaan serius yang membuat kakinya sempat tak bisa berjalan akibat dislokasi lutut. Dalam kondisi itu, ia bernazar: jika sembuh, ia akan berjalan kaki.
Kini, janji itu ia tunaikan meski harus menempuh perjalanan yang bagi banyak orang terasa mustahil di usianya.
Sepanjang perjalanan, Edi memilih jalur utama dengan sejumlah tanjakan berat, terutama di wilayah Bayeman dan Karangreja. Ia mengandalkan masjid sebagai tempat beristirahat, sekaligus menjaga ritme perjalanan agar tetap mampu bertahan secara fisik.
Di tengah keterbatasan, Edi tetap berusaha menjalankan ibadah puasa. Namun ia tak memaksakan diri. “Kalau kuat ya puasa, kalau tidak ya dibatalkan,” katanya.
Yang menguatkan langkahnya bukan hanya tekad, tetapi juga kerinduan. Di kampung halaman, istri, empat anak, serta kedua orang tuanya telah menanti.
Kisah Edi juga tak lepas dari sentuhan zaman. Di sela perjalanan, ia melakukan siaran langsung melalui aplikasi TikTok. Tak disangka, aksinya menarik simpati banyak orang. Dukungan pun mengalir, mulai dari bantuan di jalan hingga kiriman gift dari penonton.
“Jadi ada teman di perjalanan,” ucapnya.
Kisah Edi Rasidi bukan sekadar cerita mudik. Ia adalah refleksi tentang kerasnya hidup, janji yang ditepati, dan cinta sederhana kepada keluarga.
Di saat banyak orang mengeluh tentang perjalanan yang macet dan melelahkan, Edi justru berjalan yang menembus batas fisik dan keadaan demi pulang dengan harga diri.
Di atas jalan panjang itu, setiap dorongan gerobak bukan hanya langkah menuju kampung halaman, tetapi juga perjalanan pulang menuju makna hidup yang sesungguhnya.
***
(17 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan