Queensha.id – Edukasi Sosial,
Dalam Islam, ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW menegaskan bahwa seorang anak wajib berbakti kepada ibunya karena pengorbanannya saat mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak. Bahkan dalam sebuah hadis sahih, ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik, beliau menjawab, “Ibumu” sebanyak tiga kali, kemudian “ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, para ulama menjelaskan bahwa tingginya kedudukan ibu tidak berarti seorang suami boleh berlaku zalim kepada istrinya. Keduanya memiliki hak yang telah ditetapkan oleh syariat dan wajib dipenuhi secara adil.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19:
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut.”
Ayat tersebut menjadi landasan bahwa suami wajib memperlakukan istrinya dengan kasih sayang, kelembutan, penghormatan, dan akhlak yang baik.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi)
Menurut para ulama, hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seorang laki-laki tidak hanya dilihat dari ibadahnya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan istrinya di dalam rumah.
Istri Adalah Amanah Allah
Ulama menjelaskan bahwa istri bukanlah pembantu ataupun pelampiasan emosi suami, melainkan amanah dari Allah SWT. Karena itu, menyakiti istri, baik dengan ucapan kasar, penghinaan, kekerasan fisik, maupun penelantaran, merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam.
Lebih-lebih jika istri telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak-anak dengan penuh pengorbanan. Islam memandang perjuangan seorang ibu dalam melahirkan sebagai amal yang sangat besar dan harus dihargai oleh suami.
Tidak Ada Pilihan antara Ibu dan Istri
Para ulama menegaskan bahwa pertanyaan “pilih ibu atau istri?” sejatinya bukanlah pilihan yang diajarkan Islam.
Seorang muslim diperintahkan untuk:
- Berbakti kepada ibu dengan penuh hormat.
- Menunaikan hak istri dengan penuh kasih sayang.
- Tidak memihak secara zalim ketika terjadi perselisihan.
- Menjadi pemimpin keluarga yang adil dan bijaksana.
Jika terjadi konflik antara ibu dan istri, suami berkewajiban menjadi penengah yang adil, bukan membela salah satu tanpa melihat siapa yang benar.
Jangan Lupakan Pengorbanan Istri
Banyak ulama juga mengingatkan bahwa ketika seorang istri mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan, ia sedang menjalankan amanah besar untuk membangun keluarga.
Karena itu, seorang suami hendaknya selalu mengingat jasa istrinya, sebagaimana ia juga mengingat jasa ibunya. Keduanya memiliki kedudukan yang mulia dengan hak yang berbeda.
Jadi, Islam mengajarkan keseimbangan. Ibu wajib dihormati karena telah melahirkan dan membesarkan anaknya, sedangkan istri wajib dimuliakan karena menjadi pasangan hidup yang membantu membangun keluarga serta melahirkan anak-anaknya.
Para ulama sepakat bahwa berbakti kepada ibu tidak boleh dijadikan alasan untuk menzalimi istri, sebagaimana mencintai istri juga tidak boleh membuat seseorang durhaka kepada ibunya.
Seorang suami yang saleh adalah mereka yang mampu berbakti kepada orang tua, memuliakan istrinya, mendidik anak-anaknya, serta menegakkan keadilan di dalam keluarganya, sehingga tercipta rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan