Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Di tengah kehidupan modern, banyak orang bertanya-tanya mengapa ada seseorang yang bekerja siang malam, namun kondisi ekonominya terasa tidak berkembang. Uang datang, tetapi cepat habis. Pendapatan meningkat, tetapi kebutuhan terus menguras penghasilan.

Di media sosial beredar sebuah narasi yang berbunyi:

“Ada suami yang kerja keras tiap hari, tapi rezekinya seperti jalan di tempat. Uang datang tiba-tiba, tapi hilang juga tiba-tiba. Coba lihat bagaimana ia memperlakukan istrinya. Apakah sering meremehkan, menyakiti hati, atau menganggap istrinya sebagai beban? Rezeki bukan hanya soal kerja keras, tetapi juga soal cara menjaga hati orang terdekat.”

Narasi tersebut mengundang banyak tanggapan. Lalu, bagaimana Islam memandang persoalan ini?

 

Islam Mengajarkan Rezeki Datang Bersama Keberkahan

Dalam ajaran Islam, rezeki berasal dari Allah SWT. Manusia diwajibkan bekerja, berikhtiar, serta bertawakal. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa keberkahan rezeki tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, melainkan juga oleh ketakwaan, kejujuran, akhlak, dan hubungan baik dengan sesama manusia.

Bisa saja seseorang memiliki penghasilan besar, tetapi tidak pernah merasa cukup. Sebaliknya, ada keluarga dengan penghasilan sederhana namun hidup penuh ketenangan dan keberkahan.

 

Memuliakan Istri Adalah Perintah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW dikenal sebagai teladan terbaik dalam memperlakukan istri. Beliau bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seorang suami dalam Islam bukan hanya pada kemampuan mencari nafkah, tetapi juga pada akhlaknya kepada istri dan keluarga.

Suami yang gemar berkata kasar, merendahkan, melakukan kekerasan verbal maupun fisik, atau mengabaikan hak-hak istrinya telah menyelisihi tuntunan Rasulullah SAW.

 

Menyakiti Istri Bisa Menghilangkan Keberkahan

Para ulama menjelaskan bahwa perbuatan zalim merupakan salah satu sebab hilangnya keberkahan hidup. Kezaliman tidak hanya berdampak pada hubungan antarmanusia, tetapi juga dapat menjadi penghalang datangnya rahmat Allah SWT.

Jika seorang suami terus-menerus menyakiti istrinya hingga air mata dan doa orang yang terzalimi naik kepada Allah SWT, maka ia patut melakukan introspeksi. Rasulullah SAW mengingatkan agar berhati-hati terhadap doa orang yang dizalimi karena tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah SWT.

Meski demikian, tidak tepat jika setiap kesulitan ekonomi langsung disimpulkan sebagai akibat menyakiti istri. Dalam Islam, rezeki dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ikhtiar, kejujuran, ketakwaan, ujian kehidupan, serta hikmah yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

 

Pandangan Ulama Tentang Keberkahan Rezeki

Banyak ulama menjelaskan bahwa keberkahan merupakan nilai yang membuat sesuatu menjadi bermanfaat, mencukupi, dan mendatangkan ketenangan.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa dosa dan kemaksiatan dapat menjadi penyebab seseorang terhalang dari berbagai kebaikan, termasuk keberkahan rezeki. Sebaliknya, ketakwaan, silaturahmi, sedekah, dan akhlak mulia menjadi sebab dibukakannya pintu-pintu kebaikan oleh Allah SWT.

Karena itu, memperlakukan istri dengan kasih sayang merupakan bagian dari ibadah yang bernilai pahala dan menjadi salah satu jalan menghadirkan keluarga yang penuh keberkahan.

 

Istri Bukan Beban, Melainkan Amanah

Dalam Islam, istri bukanlah beban kehidupan. Ia adalah amanah yang harus dijaga, dihormati, dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang.

Suami dan istri adalah pasangan yang saling melengkapi. Ketika hubungan rumah tangga dipenuhi rasa hormat, komunikasi yang baik, saling memaafkan, dan saling mendoakan, maka suasana keluarga menjadi lebih tenang. Ketenangan inilah yang sering menjadi pintu datangnya keberkahan dalam kehidupan.

Islam tidak mengajarkan bahwa setiap kesulitan rezeki pasti disebabkan oleh perlakuan buruk kepada istri. Namun, Islam dengan tegas mengingatkan bahwa kezaliman, termasuk menyakiti pasangan, dapat menghilangkan keberkahan hidup dan mendatangkan dosa.

Karena itu, selain bekerja keras mencari nafkah, seorang suami juga dituntut memperbaiki akhlaknya, menjaga lisan, menghormati istrinya, memenuhi hak-haknya, dan membangun rumah tangga dengan cinta serta kasih sayang.

Sebab rezeki dalam Islam bukan hanya tentang berapa banyak harta yang dimiliki, melainkan juga tentang ketenangan hati, kecukupan hidup, kesehatan, keharmonisan keluarga, dan keberkahan yang Allah SWT limpahkan kepada hamba-Nya yang bertakwa.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.