Queensha.id – Idul Fitri 2026,

Menjelang Hari Raya Idulfitri, pusat perbelanjaan selalu dipadati masyarakat yang berburu baju baru. Tradisi ini seolah menjadi “kewajiban tak tertulis” yang melekat kuat dalam budaya Lebaran di Indonesia.

Namun, ajaran Islam mengingatkan bahwa esensi Idulfitri tidak terletak pada kemewahan pakaian, melainkan pada makna spiritual di balik hari kemenangan tersebut.

Dalam perspektif Islam, umat dianjurkan untuk tampil rapi, bersih, dan harum saat melaksanakan salat Id. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap syiar agama sekaligus ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah Ramadan.

Teladan tersebut telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad yang selalu mengenakan pakaian terbaiknya saat hari raya. Namun, “terbaik” yang dimaksud bukan berarti harus baru atau mahal.

Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah disebut mengenakan pakaian yang indah dan layak, tetapi tetap sederhana. Ini menunjukkan bahwa nilai utama bukan pada harga atau kebaruan, melainkan pada kepantasan dan kebersihan.
Pemahaman yang kerap keliru di masyarakat adalah menyamakan “terbaik” dengan “terbaru”.

 

Padahal, dalam ajaran Islam, yang dianjurkan adalah mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki (ajwada ma najidu), bukan memaksakan diri membeli yang baru.

Artinya, pakaian lama yang masih bersih, rapi, dan layak pakai tetap memenuhi anjuran sunnah. Tidak ada kewajiban syariat untuk mengeluarkan biaya besar hanya demi memenuhi gengsi sosial.

Lebih jauh, Idulfitri bukanlah panggung peragaan busana atau ajang menunjukkan status ekonomi. Justru, yang lebih penting adalah kebersihan hati, keikhlasan, serta kemampuan untuk saling memaafkan.

Nilai-nilai seperti sakinah (ketenangan) dan wiqar (kewibawaan) harus tercermin dalam sikap, bukan sekadar tampilan luar. Sebab, pakaian indah tidak akan berarti jika masih disertai kesombongan, dan wangi-wangian tidak bernilai jika hati belum bersih dari dendam.

Di tengah gaya hidup konsumtif yang kian menguat, pesan ini menjadi pengingat penting: Lebaran sejatinya adalah momentum kembali suci, bukan berlomba tampil paling mewah.

 

**”