Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Perselingkuhan merupakan salah satu persoalan yang paling sulit diterima dalam sebuah hubungan, baik saat masih berpacaran maupun setelah menikah. Luka yang ditinggalkan bukan hanya persoalan hadirnya orang ketiga, tetapi juga hilangnya rasa percaya yang selama ini menjadi fondasi sebuah hubungan.

Kepercayaan yang rusak tidak mudah dipulihkan. Banyak pasangan mengaku tetap mencintai, tetapi sulit melupakan pengkhianatan yang pernah terjadi. Karena itu, tidak sedikit hubungan yang akhirnya berakhir setelah salah satu pihak terbukti berselingkuh.

Para psikolog keluarga menilai, seseorang yang pernah berselingkuh memang memiliki kemungkinan mengulangi perbuatannya apabila tidak ada penyesalan yang tulus, perubahan perilaku, dan komitmen yang nyata. Namun, tidak dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang pernah berselingkuh pasti akan mengulanginya. Setiap kasus memiliki latar belakang dan proses perubahan yang berbeda.

 

Islam Mengharamkan Segala Bentuk Perselingkuhan

Dalam ajaran Islam, menjaga kesucian hati dan kehormatan diri merupakan kewajiban setiap muslim. Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang segala sesuatu yang mengarah kepada perzinaan.

 

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 32:

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk menghindari segala bentuk hubungan yang dapat membuka pintu perselingkuhan, seperti menjalin hubungan emosional secara rahasia, berduaan tanpa alasan yang dibenarkan, hingga melakukan pengkhianatan terhadap pasangan.

 

Perselingkuhan Adalah Bentuk Pengkhianatan Amanah

Dalam pernikahan, suami dan istri mengikat janji untuk saling mencintai, menjaga kehormatan, serta setia satu sama lain. Ketika salah satu pihak berselingkuh, maka kepercayaan yang telah dibangun ikut hancur.

Perselingkuhan bukan hanya menyakiti pasangan, tetapi juga dapat menghancurkan masa depan anak-anak, merusak keharmonisan keluarga, dan memicu berbagai persoalan sosial maupun psikologis.

 

Taubat Selalu Terbuka, Tetapi Kepercayaan Harus Dibangun Kembali

Islam mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa pun yang benar-benar menyesali dosa dan bertekad tidak mengulanginya.

 

Taubat yang diterima Allah SWT memiliki syarat, yaitu:

– Menyesali perbuatan yang telah dilakukan.
– Segera menghentikan perbuatan tersebut.
– Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
– Meminta maaf kepada pihak yang telah dizalimi apabila berkaitan dengan hak sesama manusia.

 

Meski demikian, taubat di hadapan Allah tidak otomatis mengembalikan kepercayaan pasangan. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun kembali melalui kejujuran, perubahan sikap, tanggung jawab, dan pembuktian dalam waktu yang tidak singkat.

 

Jangan Mengambil Keputusan Saat Emosi

Ulama dan konselor keluarga mengingatkan agar pasangan yang menghadapi perselingkuhan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi sesaat. Langkah terbaik adalah mencari kejelasan, melakukan musyawarah, melibatkan keluarga bila diperlukan, dan meminta nasihat kepada tokoh agama atau konselor keluarga.

Apabila pelaku benar-benar berubah dan menunjukkan taubat yang tulus, sebagian pasangan memilih mempertahankan rumah tangga demi kemaslahatan keluarga. Namun apabila perselingkuhan terus berulang, disertai kebohongan dan tidak ada itikad memperbaiki diri, maka pasangan berhak mengambil keputusan yang dianggap paling baik sesuai syariat dan ketentuan hukum yang berlaku.

 

Ustaz Berikan Pandangan

Ustaz Ahmad Fauzi (tokoh agama) mengatakan perselingkuhan merupakan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam karena mengkhianati amanah dan merusak kehormatan keluarga.

 

“Islam mengajarkan kesetiaan sebagai fondasi rumah tangga. Jika seseorang terjatuh dalam perselingkuhan, hendaknya ia segera bertaubat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki diri, dan meminta maaf kepada pasangan. Sementara pihak yang disakiti berhak mempertimbangkan dengan bijaksana apakah masih ada komitmen dan perubahan nyata untuk mempertahankan hubungan.”

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hanya dibangun oleh rasa cinta, tetapi juga oleh kejujuran, tanggung jawab, saling menghormati, dan kesetiaan. Nilai-nilai tersebut menjadi pondasi utama agar rumah tangga tetap harmonis dan mendapat keberkahan dari Allah SWT.

 

Catatan: Artikel ini menggunakan pendekatan yang lebih seimbang. Dalam Islam, perselingkuhan adalah dosa dan pengkhianatan, tetapi Islam juga mengajarkan bahwa pelaku yang benar-benar bertaubat memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, tidak tepat menyatakan bahwa setiap orang yang pernah berselingkuh pasti akan mengulanginya, sebab hal tersebut bergantung pada perubahan perilaku dan kesungguhan taubatnya.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.