Queensha.id – Edukasi Islam,
Tradisi saling berkunjung saat Idulfitri bukan sekadar budaya turun-temurun. Di balik hangatnya silaturahmi, tersimpan keyakinan yang kerap digaungkan: bahwa menyambung tali persaudaraan dapat memperpanjang umur.
Benarkah demikian? Atau hanya ungkapan simbolik tanpa dasar?
Dalam ajaran Islam, konsep ini bukan sekadar mitos. Terdapat hadis Nabi Muhammad SAW yang cukup populer yaitu,
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
Makna “Umur Panjang” Bukan Sekadar Hitungan Tahun
Sejumlah ulama Indonesia memberikan penjelasan yang lebih mendalam terkait makna “panjang umur” dalam konteks ini.
Menurut Quraish Shihab, umur panjang tidak selalu dimaknai secara harfiah sebagai bertambahnya jumlah tahun kehidupan. Ia menekankan bahwa makna tersebut bisa bersifat kualitas, bukan hanya kuantitas.
“Umur yang panjang adalah umur yang penuh keberkahan, diisi dengan kebaikan, dan memberi manfaat bagi orang lain,” demikian penafsiran yang sering disampaikan dalam berbagai kajiannya.
Artinya, seseorang yang rajin bersilaturahmi bisa jadi tidak hidup lebih lama secara biologis, tetapi hidupnya menjadi lebih bermakna, dihormati, dan dikenang bahkan setelah wafat.
Perspektif Ulama: Bisa Hakiki, Bisa Maknawi
Pandangan serupa juga disampaikan oleh KH. Ma’ruf Amin. Ia menjelaskan bahwa pemanjangan umur bisa dipahami dalam dua sisi yaitu
Hakiki (nyata) dan Allah benar-benar menambah usia seseorang sebagai bentuk balasan atas amal baiknya.
Maknawi (simbolik) yaitu kehidupan seseorang dipenuhi keberkahan, dijauhkan dari hal sia-sia, serta diberi kesehatan dan ketenangan.
Dalam konteks ini, silaturahmi menjadi sebab datangnya keberkahan tersebut.
Silaturahmi dan Kesehatan Sosial
Di luar perspektif teologis, silaturahmi juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan sosial. Hubungan yang harmonis dengan keluarga dan lingkungan terbukti mampu mengurangi stres, memperkuat dukungan emosional, hingga meningkatkan kualitas hidup.
Hal ini sejalan dengan pesan para ulama bahwa menjaga hubungan baik bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga membawa manfaat duniawi.
Idulfitri: Momentum Memperpanjang “Jejak Hidup”
Idulfitri menjadi momen paling kuat untuk menghidupkan kembali silaturahmi yang mungkin renggang. Tradisi saling memaafkan, berkunjung, hingga berkumpul bersama keluarga besar bukan sekadar seremoni—melainkan praktik nyata dari ajaran agama.
Di sinilah makna “memperpanjang umur” menemukan relevansinya: bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih berarti.
Antara Keyakinan dan Tindakan
Keyakinan bahwa silaturahmi memperpanjang umur bukanlah ajakan untuk berharap tanpa usaha. Justru sebaliknya, ia menjadi dorongan untuk aktif menjaga hubungan, menghilangkan dendam, dan mempererat persaudaraan.
Sebab pada akhirnya, umur manusia memang terbatas. Namun, keberkahan dan jejak kebaikan yang ditinggalkan dan itulah yang bisa “memanjangkan” makna kehidupan.
Jadi, saat Anda mengetuk pintu rumah saudara di hari raya, mungkin yang Anda bawa bukan hanya maaf tetapi juga jalan menuju hidup yang lebih panjang dalam arti yang sesungguhnya.
***
(20 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan