Queensha.id – Edukasi Sosial,
PATAH HATINYA SEORANG LAKI-LAKI (SUAMI)
“Dia diam… tapi hatinya terluka.”
- Ketika dia sudah berusaha memenuhi kebutuhan anak istri dengan susah payah, banting tulang dari pagi sampai malam, tak kenal lelah.
- Kehujanan dan kepanasan.
- Tapi sang istri tidak menghargai dan menganggap remeh nafkah tersebut.
- Dan lebih menyedihkan ketika dia dibanding-bandingkan dengan lelaki lain yang lebih besar penghasilannya.
Hargailah perjuangan suamimu, sekecil apa pun nafkahnya…
Karena di balik lelahnya, ada cinta dan tanggung jawab untuk keluarganya.
“Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.”
Ada yang bertanya kepada beliau,
“Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”
Beliau menjawab,
“Tidak, melainkan mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami).”
(HR. Bukhari No. 5197 dan Muslim No. 907)
Menghargai Perjuangan Pasangan Adalah Bagian dari Akhlak Mulia
Fenomena suami yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga menjadi perhatian banyak kalangan. Tidak sedikit suami yang harus berangkat sejak dini hari, bekerja di bawah terik matahari maupun hujan, bahkan rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi memastikan kebutuhan istri dan anak-anak terpenuhi.
Namun dalam kehidupan rumah tangga, persoalan sering muncul ketika salah satu pihak merasa perjuangannya tidak dihargai. Perbandingan dengan orang lain, ucapan yang meremehkan penghasilan, maupun kurangnya rasa syukur dapat menimbulkan luka batin yang mendalam.
Para konselor keluarga menilai bahwa penghargaan terhadap pasangan bukan hanya diukur dari besar kecilnya nafkah, tetapi juga dari sikap saling menghormati, mendukung, dan berterima kasih atas usaha yang dilakukan.
Pandangan Islam tentang Nafkah Suami
Dalam Islam, memberikan nafkah kepada istri dan anak merupakan kewajiban suami sesuai kemampuan yang Allah berikan.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Talaq ayat 7:
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan-Nya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak menilai besarnya nafkah semata, melainkan kesungguhan dan kemampuan seseorang dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Makna Hadis tentang “Kufur kepada Suami”
Hadis yang dikutip dalam gambar memang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Menurut penjelasan para ulama, yang dimaksud “kufur kepada suami” bukan berarti keluar dari agama Islam, melainkan mengingkari atau tidak mensyukuri kebaikan yang telah dilakukan suami.
Dalam penjelasannya, Imam An-Nawawi menerangkan bahwa yang dimaksud adalah sikap seseorang yang melupakan berbagai kebaikan pasangannya, lalu ketika terjadi satu kesalahan atau kekurangan, ia mengatakan seolah-olah tidak pernah mendapatkan kebaikan sama sekali.
Karena itu, hadis tersebut merupakan peringatan agar seorang istri menjaga lisan dan menghargai pengorbanan suaminya.
Islam Juga Memerintahkan Suami Berbuat Baik kepada Istri
Di sisi lain, Islam juga memberikan kewajiban besar kepada suami.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, seorang suami tidak cukup hanya memberikan nafkah, tetapi juga harus memperlakukan istri dengan kasih sayang, kelembutan, dan akhlak yang baik.
Dengan demikian, Islam mengajarkan keseimbangan hak dan kewajiban antara suami dan istri.
Ulama: Rumah Tangga Dibangun dengan Syukur dan Saling Menghargai
Ulama menjelaskan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi oleh hadirnya rasa syukur, saling menghormati, komunikasi yang baik, serta kesediaan untuk memahami perjuangan masing-masing.
Suami yang bekerja keras layak mendapatkan penghargaan atas usahanya. Sebaliknya, istri yang mengurus rumah tangga, mendidik anak, dan mendampingi suami juga memiliki jasa yang sangat besar.
Karena itu, membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain, merendahkan usaha pasangan, atau melupakan kebaikannya merupakan sikap yang sebaiknya dihindari.
Hikmah bagi Keluarga Muslim
Islam mengajarkan bahwa rumah tangga yang sakinah dibangun di atas cinta, kasih sayang (mawaddah wa rahmah), saling menghormati, dan saling menunaikan hak serta kewajiban.
Suami hendaknya bekerja dengan penuh tanggung jawab dan memperlakukan istri dengan baik. Sementara istri dianjurkan menghargai perjuangan suami, bersyukur atas nafkah yang halal, serta mendukung suaminya dalam kebaikan.
Dengan saling menghormati dan bersyukur, keluarga akan lebih mudah menghadapi berbagai ujian kehidupan serta meraih keberkahan dalam rumah tangga.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan