Queensha.id – Edukasi Sosial,
Perdebatan mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga kembali menjadi perhatian publik setelah beredarnya sebuah narasi di media sosial yang mengingatkan para suami agar tidak mudah membanggakan besarnya nafkah yang diberikan, sekaligus tidak terburu-buru menilai istri sebagai sosok yang boros.
Dalam narasi tersebut disebutkan bahwa uang belanja yang diterima istri umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari kebutuhan dapur, pendidikan anak, biaya rumah tangga, hingga berbagai keperluan lain yang sering kali tidak terlihat.
Narasi itu juga menggambarkan bahwa banyak istri rela menunda keinginan pribadinya, seperti membeli pakaian, perhiasan, kosmetik, atau barang lainnya demi memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Meski demikian, pesan tersebut perlu dipahami secara proporsional karena kondisi setiap keluarga berbeda-beda. Tidak semua istri memiliki pola pengelolaan keuangan yang sama, demikian pula kemampuan ekonomi setiap suami tidak dapat disamaratakan.
Islam Mengajarkan Amanah dan Musyawarah
Dalam ajaran Islam, suami memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada istri dan keluarga sesuai kemampuan. Nafkah tersebut mencakup kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Di sisi lain, istri juga dianjurkan mengelola harta keluarga dengan penuh amanah, tidak berlebihan (israf), serta mengutamakan kemaslahatan keluarga.
Islam juga mengajarkan pentingnya musyawarah, keterbukaan, dan saling percaya dalam mengatur keuangan rumah tangga. Suami tidak dianjurkan bersikap curiga tanpa alasan yang jelas, sementara istri juga hendaknya terbuka mengenai penggunaan uang agar tercipta rasa saling percaya.
Para ulama menjelaskan bahwa keluarga yang harmonis bukan dibangun dari besarnya penghasilan semata, melainkan dari keberkahan rezeki, kejujuran, rasa syukur, dan kemampuan suami istri bekerja sama menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Jangan Saling Menyalahkan
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai persoalan keuangan rumah tangga seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan antara suami dan istri.
Menurutnya, banyak pengeluaran rumah tangga yang sering luput dari perhatian karena sebagian besar berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari yang dikelola oleh istri.
“Istri pada umumnya mengatur kebutuhan keluarga setiap hari. Karena itu, suami dan istri perlu membangun komunikasi yang baik, saling terbuka, dan saling memahami kondisi ekonomi keluarga. Jangan mudah memberi label boros tanpa melihat keseluruhan kebutuhan yang harus dipenuhi,” ujar Purnomo Wardoyo, Kamis (16/7/2026).
Ia menambahkan bahwa keberhasilan membangun keluarga tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan, tetapi juga dari kemampuan pasangan menjaga kekompakan, saling menghargai, serta bersama-sama mencari solusi ketika menghadapi keterbatasan ekonomi.
Bangun Kepercayaan dalam Rumah Tangga
Menurut Purnomo, suami yang bekerja mencari nafkah dan istri yang mengelola keuangan keluarga sejatinya memiliki peran yang saling melengkapi.
Karena itu, komunikasi mengenai pemasukan, pengeluaran, tabungan, hingga rencana keuangan perlu dibicarakan bersama agar tidak menimbulkan prasangka maupun konflik.
“Kepercayaan adalah modal utama dalam rumah tangga. Ketika suami dan istri saling terbuka, menghargai peran masing-masing, serta bermusyawarah dalam setiap keputusan keuangan, insyaallah keluarga akan lebih harmonis,” katanya.
Hikmah bagi Keluarga
Islam mengajarkan bahwa rezeki bukan semata-mata tentang jumlah uang yang dimiliki, melainkan bagaimana harta tersebut digunakan secara bertanggung jawab dan penuh keberkahan.
Karena itu, daripada saling menyalahkan mengenai besar atau kecilnya nafkah, suami dan istri dianjurkan untuk saling bersyukur, menjaga amanah, memperkuat komunikasi, dan bekerja sama dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan