Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Kalimat “ada bekas suami atau bekas istri, tetapi tidak ada bekas anak maupun bekas orang tua” sering menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Di sisi lain, beredar pula kisah seorang profesor yang meminta mahasiswanya memilih satu orang terdekat untuk tetap mendampingi hidupnya. Dalam cerita tersebut, sang mahasiswa akhirnya memilih istrinya dibandingkan orang tua maupun anaknya.

Cerita ini menyentuh emosi banyak orang karena menggambarkan beratnya memilih di antara orang-orang yang sama-sama dicintai. Namun, penting dipahami bahwa kisah tersebut merupakan ilustrasi atau refleksi tentang hubungan dalam keluarga, bukan penelitian ilmiah yang terbukti benar.

 

Psikologi: Setiap Hubungan Memiliki Peran yang Berbeda

Psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menjelaskan bahwa hubungan dalam keluarga tidak dapat diukur dengan siapa yang paling penting. Setiap anggota keluarga memiliki peran yang berbeda sesuai fase kehidupan.

Menurutnya, orang tua adalah sosok yang memberikan kehidupan, membesarkan, mendidik, dan menjadi fondasi pembentukan karakter anak. Sementara itu, anak merupakan amanah yang harus dibimbing hingga mampu hidup mandiri.

Adapun pasangan hidup adalah orang yang dipilih secara sadar untuk membangun rumah tangga, berbagi tanggung jawab, menghadapi tantangan hidup, dan saling memberikan dukungan emosional dalam jangka panjang.

 

Mengapa Pasangan Menjadi Pendamping Seumur Hidup?

Dalam psikologi perkembangan orang dewasa, hubungan suami istri memang memiliki posisi yang sangat penting karena dibangun atas komitmen, komunikasi, kerja sama, dan saling mendukung.

Ketika seseorang menikah, pasangan menjadi rekan utama dalam mengambil keputusan, membesarkan anak, mengelola keuangan, hingga menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Namun, hal tersebut bukan berarti kasih sayang kepada orang tua atau anak menjadi berkurang. Bentuk cinta kepada masing-masing anggota keluarga berbeda, tetapi sama-sama bernilai.

 

Jangan Menjadikan Cerita sebagai Alasan Membandingkan

Psikolog mengingatkan bahwa kisah seperti ini sebaiknya dipahami sebagai bahan renungan, bukan dijadikan alasan untuk membandingkan siapa yang lebih berhak dicintai.

Hubungan yang sehat justru terbangun ketika seseorang mampu menjalankan kewajibannya kepada orang tua, mencintai pasangan dengan penuh komitmen, sekaligus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya.

Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, keseimbangan antara bakti kepada orang tua, kasih sayang kepada anak, dan kesetiaan kepada pasangan menjadi fondasi keluarga yang harmonis.

 

Komunikasi Menjadi Kunci Keharmonisan

Para pakar psikologi keluarga menekankan bahwa konflik dalam rumah tangga sering kali bukan disebabkan oleh siapa yang lebih penting, melainkan karena kurangnya komunikasi, empati, dan saling menghargai.

Suami dan istri perlu saling terbuka dalam mengambil keputusan, termasuk ketika berkaitan dengan orang tua maupun anak. Dengan komunikasi yang baik, setiap anggota keluarga dapat merasa dihargai tanpa harus diposisikan sebagai pihak yang harus dipilih.

Pada akhirnya, kasih sayang dalam keluarga bukanlah sebuah kompetisi. Orang tua layak dihormati, anak layak disayangi, dan pasangan layak dicintai serta didampingi. Ketiganya memiliki tempat yang berbeda, tetapi sama-sama penting dalam perjalanan hidup seseorang.

 

Perlu dicatat bahwa kisah profesor dan mahasiswa tersebut adalah cerita motivasi yang banyak beredar di media sosial dan tidak diketahui berasal dari penelitian psikologi yang terverifikasi. Oleh karena itu, artikel di atas menyajikannya sebagai ilustrasi, bukan sebagai fakta ilmiah.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.