Queensha.id – Edukasi Sosial,
Tradisi berbagi uang saat Idulfitri, yang dikenal dengan sebutan salam tempel atau angpao Lebaran, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia. Amplop hijau yang dibagikan kepada anak-anak bukan sekadar uang, tetapi simbol kebahagiaan, perhatian, dan kasih sayang setelah sebulan berpuasa.
Namun di balik tradisi yang tampak sederhana ini, muncul persoalan yang kerap dianggap sepele: praktik pilih kasih dalam membagikan uang Lebaran.
Fenomena ini terjadi ketika anak-anak dari keluarga mampu tidak diberikan uang, sementara anak dari keluarga kurang mampu mendapat bagian lebih.
Meski terkesan logis, praktik ini dinilai berpotensi menimbulkan luka batin anak terutama bagi anak-anak.
Tradisi yang Sarat Makna Sosial
Dalam perspektif Islam, memberi kepada sesama, terutama di hari raya, merupakan bagian dari akhlak mulia. Tradisi salam tempel sendiri bukan kewajiban, tetapi bentuk sedekah dan mempererat silaturahmi.
Namun, nilai utama dari pemberian ini bukan terletak pada jumlah atau status penerima, melainkan pada keikhlasan dan keadilan.
Ulama: Keadilan Lebih Utama dari Nominal
Menurut Quraish Shihab, dalam mendidik anak maupun bersikap kepada sesama, prinsip keadilan harus dijaga, bahkan dalam hal kecil sekalipun.
Ia menekankan bahwa perlakuan yang berbeda tanpa alasan yang bijak bisa menimbulkan kecemburuan sosial dan rasa tidak dihargai, terutama pada anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan emosi.
Pandangan senada juga disampaikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal sebagai Aa Gym. Ia menilai bahwa kebaikan yang tidak disertai keadilan bisa kehilangan makna.
“Jangan sampai niat berbagi justru melukai hati. Karena dalam Islam, menjaga perasaan juga bagian dari akhlak,” menjadi pesan yang sering ia sampaikan dalam berbagai ceramah.
Dampak Psikologis yang Sering Diabaikan
Dalam kajian Psikologi Anak, anak-anak sangat sensitif terhadap perlakuan yang berbeda. Tidak diberi uang Lebaran hanya karena dianggap “sudah mampu” bisa menimbulkan rasa tersisih, malu, bahkan mempertanyakan nilai dirinya di mata orang dewasa.
Padahal, bagi anak-anak, uang Lebaran bukan soal kebutuhan ekonomi, melainkan pengakuan dan kebahagiaan.
Bayangkan jika situasinya dibalik: seorang anak dari keluarga berada tidak menerima apa pun, sementara teman-temannya mendapatkan amplop.
Perasaan kecewa itu nyata, meski sering dianggap remeh oleh orang dewasa.
Bijak dalam Berbagi
Ulama menekankan bahwa bersedekah kepada yang membutuhkan memang sangat dianjurkan. Namun, dalam konteks salam tempel yang bersifat sosial dan simbolik, keadilan dan kebijaksanaan harus diutamakan.
Memberi dengan nominal berbeda boleh saja, tetapi jangan sampai ada yang benar-benar tidak diberi tanpa penjelasan yang baik. Alternatifnya, semua anak tetap diberi, sementara sedekah khusus bisa disalurkan secara terpisah kepada yang lebih membutuhkan.
Lebaran: Tentang Kebahagiaan yang Merata
Idulfitri sejatinya adalah momen berbagi kebahagiaan. Tradisi salam tempel seharusnya menjadi sarana mempererat hubungan, bukan menciptakan jarak emosional.
Di sinilah peran orang tua diuji: bukan hanya dalam memberi, tetapi dalam bersikap adil dan bijak.
Karena pada akhirnya, yang diingat anak-anak bukanlah jumlah uang yang diterima, melainkan bagaimana mereka diperlakukan.
***
(20 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan