Queensha.id – Edukasi Budaya,

 

Batu Mustika Merah Delima merupakan salah satu benda pusaka yang paling populer dalam cerita mistis Nusantara. Selama puluhan bahkan ratusan tahun, batu ini dipercaya memiliki berbagai kesaktian, mulai dari menangkal santet, memberikan kekebalan tubuh, hingga diyakini dihuni oleh khodam atau makhluk gaib yang menjaga pemiliknya.

Berbeda dengan batu rubi atau batu merah delima yang dikenal dalam ilmu gemologi sebagai batu mulia hasil proses geologi, Mustika Merah Delima dalam cerita rakyat lebih sering diposisikan sebagai benda supranatural yang keberadaannya diselimuti berbagai legenda.

Namun, bagaimana Islam memandang kepercayaan tersebut?

 

Legenda Asal-usul Mustika Merah Delima

Dalam berbagai cerita rakyat di Nusantara, terdapat sejumlah versi mengenai asal-usul Mustika Merah Delima.

1. Dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul

Dalam cerita rakyat di pesisir selatan Pulau Jawa, Mustika Merah Delima disebut sebagai kristalisasi air mata Nyi Roro Kidul atau hadiah dari kerajaan gaib Laut Selatan kepada manusia tertentu.

Namun, kisah ini merupakan bagian dari folklor dan tradisi lisan masyarakat. Hingga kini tidak ada bukti sejarah maupun dalil agama yang dapat membenarkan cerita tersebut.

2. Dikaitkan dengan Para Raja dan Wali

Ada pula cerita yang menghubungkan batu tersebut dengan para raja Nusantara maupun tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa, seperti Sunan Kalijaga.

Dalam berbagai kisah tutur, batu itu disebut sebagai pusaka pelindung kerajaan.

Namun, para sejarawan menegaskan bahwa cerita tersebut lebih banyak berkembang dalam legenda masyarakat dan belum memiliki bukti sejarah yang dapat diverifikasi.

3. Berasal dari Alam Gaib

Sebagian praktisi supranatural meyakini Mustika Merah Delima bukan berasal dari bumi, melainkan dari dimensi gaib yang kemudian berwujud benda fisik.

Keyakinan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan spiritual tertentu dan tidak memiliki dasar ilmiah maupun dalil dalam ajaran Islam.

 

Mitos Kesaktian yang Beredar di Masyarakat

Popularitas Mustika Merah Delima tidak lepas dari berbagai cerita mengenai kesaktiannya.

Di antaranya:

  • air putih berubah merah ketika batu dimasukkan ke dalam gelas;
  • mampu memberikan kekebalan terhadap senjata tajam maupun senjata api;
  • memiliki khodam yang melindungi pemiliknya;
  • tidak dapat diperjualbelikan karena diyakini “memilih” pemiliknya sendiri;
  • mampu mendatangkan kewibawaan, rezeki, hingga perlindungan gaib.

Hingga saat ini, klaim-klaim tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan lebih banyak hidup sebagai bagian dari mitos maupun kepercayaan masyarakat.

 

Pandangan Islam tentang Batu Bertuah

Dalam Islam, seluruh manfaat dan mudarat berasal dari Allah SWT.

Tidak ada benda, termasuk batu, yang memiliki kekuatan mandiri untuk melindungi manusia, mendatangkan rezeki, ataupun memberikan kesaktian tanpa izin Allah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 107:

“Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu.

 

Ulama: Jangan Meyakini Benda Memiliki Kekuatan Gaib

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menjelaskan bahwa meyakini batu, jimat, cincin, keris, atau benda pusaka memiliki kekuatan gaib secara mandiri merupakan keyakinan yang bertentangan dengan prinsip tauhid.

Syekh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa penggunaan jimat atau benda yang diyakini dapat menolak bala tanpa dalil syariat termasuk perbuatan yang dilarang.

Hal senada juga disampaikan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, yang menegaskan bahwa menggantungkan harapan kepada benda-benda bertuah dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, bahkan bisa mengarah kepada syirik apabila diyakini memiliki kekuatan sendiri.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa menggantungkan jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi landasan penting agar umat Islam tidak menggantungkan perlindungan kepada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan supranatural.

 

Bagaimana Jika Batu Itu Hanya Batu Permata?

Islam tidak melarang seseorang memiliki batu permata sebagai perhiasan, koleksi, atau investasi.

Yang menjadi persoalan adalah ketika batu tersebut diyakini mampu:

  • mengusir jin;
  • menangkal santet;
  • memberikan kekebalan;
  • menghadirkan khodam pelindung;
  • menentukan takdir seseorang.

Keyakinan seperti inilah yang diperingatkan oleh para ulama karena dapat merusak akidah seorang Muslim.

 

Perlindungan Terbaik Menurut Islam

Islam mengajarkan bahwa perlindungan terbaik bukan berasal dari benda pusaka, melainkan dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui:

  • menjaga salat lima waktu;
  • membaca Ayat Kursi;
  • membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas;
  • memperbanyak zikir pagi dan petang;
  • berdoa serta bertawakal kepada Allah;
  • menjauhi praktik perdukunan, ramalan, dan kesyirikan.

Bijak Menyikapi Warisan Budaya

Mustika Merah Delima merupakan bagian dari cerita dan budaya yang hidup di tengah masyarakat Nusantara. Sebagai warisan budaya, kisah-kisah tersebut dapat dipelajari dari sisi sejarah, antropologi, atau folklor.

Namun, dari perspektif akidah Islam, umat Muslim diajarkan untuk tidak meyakini bahwa batu, jimat, atau benda pusaka memiliki kekuatan gaib yang berdiri sendiri. Seluruh perlindungan, pertolongan, rezeki, dan keselamatan hanya berasal dari Allah SWT.

Karena itu, umat Islam diimbau menjadikan kisah Mustika Merah Delima sebagai bagian dari kekayaan budaya dan legenda Nusantara, tanpa menjadikannya dasar keyakinan yang bertentangan dengan ajaran tauhid.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.