Queensha.id – Edukasi Sosial,

 

Masalah keuangan menjadi salah satu penyebab utama konflik dalam rumah tangga. Perselisihan sering muncul bukan karena kecilnya penghasilan, melainkan karena cara pasangan mengelola dan membagi keuangan keluarga.

Di tengah masyarakat, terdapat sejumlah perilaku yang sering dikaitkan dengan sikap suami yang pelit terhadap istri, seperti seluruh keuangan dikuasai sendiri, istri harus meminta uang setiap kali membutuhkan, hingga suami merasa tidak perlu memberi nafkah karena istrinya telah bekerja.

Lantas, bagaimana pandangan para ahli?

 

Ciri-ciri yang Sering Dianggap Sebagai Suami Pelit

Beberapa perilaku berikut kerap menjadi keluhan para istri:

  • Seluruh keuangan keluarga hanya dikuasai suami tanpa adanya keterbukaan.
  • Uang belanja bulanan harus diminta terlebih dahulu.
  • Setiap pengeluaran istri selalu dipertanyakan secara berlebihan.
  • Saat istri membutuhkan uang untuk kebutuhan yang wajar, suami sering mengatakan tidak memiliki uang, tetapi tetap mampu memenuhi keinginan pribadinya.
  • Suami memberikan nafkah dalam jumlah yang sangat minim meski kondisi ekonomi sebenarnya mencukupi.
  • Suami merasa senang apabila istri tidak pernah meminta uang.
  • Penghasilan istri dijadikan alasan untuk menghentikan pemberian nafkah.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kondisi ekonomi setiap keluarga berbeda sehingga tidak semua perilaku tersebut dapat langsung disimpulkan sebagai bentuk kepelitan.

 

Kata Pakar Ekonomi Indonesia

Perencana keuangan Ligwina Hananto menilai bahwa keuangan rumah tangga harus dibangun atas dasar keterbukaan dan tujuan bersama. Menurutnya, pasangan suami istri perlu mengetahui kondisi pemasukan, pengeluaran, tabungan, investasi, hingga utang agar tercipta rasa saling percaya.

Sementara itu, perencana keuangan Prita Ghozie menjelaskan bahwa salah satu ciri rumah tangga yang sehat adalah adanya komunikasi mengenai anggaran keluarga. Pengelolaan uang sebaiknya tidak dilakukan secara sepihak karena dapat memicu konflik dan menimbulkan rasa tidak dihargai.

Menurut para pakar, bersikap hemat merupakan hal yang baik. Namun, penghematan tidak boleh menghilangkan hak pasangan untuk memperoleh kebutuhan yang layak.

 

Pandangan Psikolog

Psikolog keluarga Anna Surti Ariani (Nina) menjelaskan bahwa masalah keuangan sering kali bukan sekadar persoalan uang, tetapi juga berkaitan dengan rasa aman, penghargaan, dan kepercayaan dalam hubungan suami istri.

Apabila salah satu pasangan terlalu mengontrol keuangan tanpa komunikasi yang sehat, pasangan lainnya dapat merasa tidak dipercaya, tidak dihargai, bahkan kehilangan rasa aman dalam rumah tangga.

Psikolog menyarankan agar pasangan membangun komunikasi yang terbuka mengenai kondisi ekonomi, membuat anggaran bersama, dan menyepakati prioritas kebutuhan keluarga sehingga tidak muncul prasangka maupun konflik berkepanjangan.

 

Bagaimana Pandangan Islam?

Dalam Islam, memberi nafkah kepada istri merupakan kewajiban suami sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Talaq ayat 7:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa besar kecilnya nafkah disesuaikan dengan kemampuan suami, tetapi kewajiban memberi nafkah tetap ada.

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar suami memperlakukan istri dengan baik, termasuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa apabila istri memiliki penghasilan sendiri, hal itu tidak menggugurkan kewajiban suami untuk memberikan nafkah. Penghasilan istri merupakan hak istri sepenuhnya, kecuali apabila ia dengan sukarela membantu kebutuhan keluarga.

 

Hemat Bukan Berarti Pelit

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam mengelola harta. Seorang suami tidak dianjurkan boros, tetapi juga tidak boleh bersikap kikir terhadap keluarganya.

Suami yang mengatur pengeluaran demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga dapat dikategorikan sebagai sikap bijaksana. Namun, apabila sengaja menahan nafkah padahal mampu, mengabaikan kebutuhan istri dan anak, atau menggunakan uang hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, maka perilaku tersebut tidak sejalan dengan nilai keadilan dan tanggung jawab dalam Islam.

Pakar ekonomi, psikolog, dan ajaran Islam memiliki benang merah yang sama, yakni pentingnya komunikasi, tanggung jawab, dan keterbukaan dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Suami berkewajiban memberikan nafkah sesuai kemampuannya, sedangkan istri berhak memperoleh pemenuhan kebutuhan hidup yang layak. Sebaliknya, pengelolaan keuangan yang dilakukan secara transparan dan penuh musyawarah akan menciptakan rumah tangga yang lebih harmonis, saling percaya, dan jauh dari konflik.

 

***

Sumber: Queensha Jepara.

Penulis: Vico Rahman.