Queensha.id – Edukasi Sosial,
Fenomena sosial kian terasa di tengah masyarakat modern. Tidak sedikit pasangan suami istri yang telah mapan secara ekonomi memilih hidup “tertutup”—cuek terhadap lingkungan, enggan menyapa, bahkan tidak mengenal tetangga sekitar.
Alasannya beragam, mulai dari kesibukan hingga perasaan tidak lagi membutuhkan orang lain.
Namun dalam pandangan Islam, sikap seperti ini bukan sekadar persoalan sosial, melainkan juga menyangkut nilai moral dan keimanan.
Dalam ajaran Islam, hubungan dengan tetangga memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan, menjaga hubungan baik dengan tetangga termasuk bagian dari kesempurnaan iman.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Miftachul Akhyar, dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa kesuksesan tidak boleh membuat seseorang lupa diri, apalagi sampai memutus hubungan sosial di sekitarnya.
“Ukuran keberhasilan bukan hanya materi, tapi juga sejauh mana seseorang bermanfaat bagi orang lain,” menjadi pesan yang kerap disampaikan dalam dakwahnya.
Sikap merasa tidak membutuhkan tetangga dinilai sebagai bentuk kesombongan yang halus. Padahal, manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, seberapa pun tinggi pencapaian yang diraih.
Ulama kharismatik dari Nahdlatul Ulama, KH Maimun Zubair (alm), pernah menegaskan bahwa menjaga hubungan dengan tetangga bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga bagian dari tanggung jawab keimanan.
Menurutnya, orang yang mengabaikan tetangganya berpotensi kehilangan keberkahan dalam hidupnya, meskipun secara materi terlihat berkecukupan.
Sementara itu, Ketua Umum Muhammadiyah, KH Haedar Nashir, menyoroti pentingnya membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah arus individualisme modern.
Ia menilai, sikap eksklusif dan tertutup justru dapat merusak tatanan sosial serta menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Fenomena ini juga menjadi peringatan bagi keluarga, terutama yang memiliki anak. Sikap orang tua yang cuek terhadap lingkungan berpotensi ditiru oleh anak-anak, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang kurang peduli terhadap sesama.
Padahal, nilai gotong royong dan saling menyapa merupakan warisan budaya yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat Indonesia.
Dalam kehidupan bertetangga, hal sederhana seperti menyapa, membantu saat dibutuhkan, atau sekadar menjalin komunikasi ringan dapat menciptakan rasa aman dan kebersamaan.
Sebaliknya, sikap acuh tak acuh justru dapat menimbulkan jarak sosial yang berujung pada hilangnya kepedulian.
Ulama sepakat, kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari harta atau status, tetapi dari akhlak dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, menjaga hubungan dengan tetangga bukan lagi sekadar tradisi, melainkan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hidup.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya hidup dengan apa yang dimiliki, tetapi juga dengan siapa ia berbagi.
***

Tinggalkan Balasan