Queensha.id – Edukasi Sosial,
Sebuah unggahan motivasi di media sosial dengan judul “Butuh 15 Tahun untuk Memahami Ini” belakangan ramai dibagikan warganet. Tulisan tersebut berisi delapan pelajaran hidup yang mengajak seseorang agar tidak mudah terpuruk saat menghadapi kritik, kebencian, maupun penilaian negatif dari orang lain.
Berikut isi tulisan yang terdapat dalam gambar tersebut:
Butuh 15 Tahun untuk Memahami Ini
- Jika tidak ada musuh, berarti kamu tidak penting.
- Jika tidak ada yang membicarakanmu di belakang, berarti kamu tidak relevan.
- Jika dimanfaatkan orang lain, itu berarti kamu memiliki nilai.
- Jika mencoba dijatuhkan, itu berarti kamu sudah berada di atas mereka.
- Kebencian hanya datang dari bawah, tidak pernah dari atas.
- Jika mereka meragukanmu, itu berarti kamu sedang melakukan sesuatu yang besar.
- Kritik hanyalah bentuk kekaguman yang tersembunyi.
- Para pembencimu sebenarnya adalah penggemar terbesarmu yang belum tahu cara menghargai diri sendiri.
Unggahan tersebut menarik perhatian karena memberikan sudut pandang positif dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Namun, apakah seluruh isi pesan tersebut sesuai dengan ajaran Islam?
Islam Mengajarkan Introspeksi, Bukan Sekadar Berpikir Positif
Dalam Islam, seorang muslim dianjurkan untuk memiliki sikap optimistis (husnuzan) kepada Allah SWT. Namun, para ulama juga mengingatkan agar seseorang tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap kritik, kebencian, atau penolakan pasti merupakan tanda dirinya lebih baik daripada orang lain.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini mengajarkan agar umat Islam tidak mudah berprasangka terhadap niat maupun sikap orang lain.
Tidak Semua Musuh Berarti Kita Benar
Poin pertama dalam tulisan tersebut menyebutkan bahwa jika tidak memiliki musuh berarti seseorang tidak penting.
Menurut pandangan Islam, pernyataan itu tidak dapat dijadikan ukuran mutlak. Rasulullah Saw memang memiliki banyak musuh ketika berdakwah, tetapi beliau juga dicintai oleh banyak sahabat karena akhlaknya yang mulia.
Ulama besar Indonesia Prof. KH. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah banyak atau sedikitnya musuh, melainkan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Kritik Bisa Menjadi Nasihat
Tulisan tersebut juga menyebut bahwa kritik hanyalah bentuk kekaguman yang tersembunyi.
Dalam Islam, kritik tidak selalu lahir dari rasa iri atau kagum. Kritik dapat menjadi bentuk nasihat yang dianjurkan agama.
Rasulullah Saw bersabda:
“Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Karena itu, umat Islam dianjurkan menerima kritik yang benar sebagai sarana memperbaiki diri, sekaligus mengabaikan kritik yang hanya bertujuan menghina tanpa dasar.
Jangan Merasa Lebih Tinggi dari Orang Lain
Pernyataan seperti “kalau dijatuhkan berarti sudah berada di atas mereka” atau “kebencian hanya datang dari bawah” tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam apabila dipahami secara mutlak.
Islam justru mengajarkan sikap tawadhu’ atau rendah hati.
Almarhum KH. Ali Mustafa Yaqub pernah mengingatkan bahwa salah satu pintu masuk kesombongan adalah merasa diri lebih baik daripada orang lain tanpa dasar yang benar.
Dimanfaatkan Orang Lain Bukan Selalu Tanda Memiliki Nilai
Tulisan tersebut juga menyebut bahwa dimanfaatkan orang lain berarti seseorang memiliki nilai.
Dalam pandangan Islam, membantu sesama merupakan perbuatan mulia. Namun, Islam juga mengajarkan agar seorang muslim tidak membiarkan dirinya dizalimi atau dieksploitasi.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk bersikap bijaksana, saling tolong-menolong dalam kebaikan, tetapi tetap menjaga hak dan martabat dirinya.
Pandangan Ulama Indonesia
Mayoritas ulama Indonesia, baik dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah, mengajarkan bahwa menghadapi pujian, kritik, maupun kebencian harus dilakukan dengan sikap seimbang.
Apabila dipuji, seseorang hendaknya tidak menjadi sombong. Sebaliknya, ketika dikritik atau dibenci, ia tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa dirinya pasti benar atau lebih hebat.
Yang terpenting adalah melakukan muhasabah (introspeksi), memperbaiki diri, dan tetap berpegang pada ajaran Al-Qur’an serta sunnah Rasulullah Saw.
Jadikan Motivasi sebagai Penguat, Bukan Kebenaran Mutlak
Tulisan motivasi seperti ini dapat menjadi penyemangat bagi sebagian orang agar tidak mudah menyerah menghadapi kehidupan. Namun, dalam Islam setiap motivasi tetap perlu ditimbang dengan nilai-nilai syariat.
Umat Islam diajarkan untuk tidak larut dalam pujian maupun kebencian manusia. Yang paling utama adalah mencari ridha Allah SWT, menjaga akhlak, menerima nasihat yang baik, serta terus memperbaiki diri.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah banyaknya pengikut, musuh, kritik, atau pujian, melainkan tingkat ketakwaan dan akhlaknya di hadapan Allah SWT.
***
Sumber: Queensha Jepara.
Penulis: Vico Rahman.

Tinggalkan Balasan